Petenis nomor satu dunia, Aryna Sabalenka, melayangkan kritik tajam terhadap otoritas tenis putri dunia (WTA) terkait jadwal kompetisi yang dinilainya tidak manusiawi. Pernyataan keras ini disampaikan hanya beberapa hari menjelang bergulirnya Grand Slam pembuka tahun, Australian Open 2026, yang akan dimulai pada 12 Januari hingga 2 Februari di Melbourne.
Sabalenka secara terbuka menyebut kalender turnamen saat ini sebagai sesuatu yang “gila” dan berpotensi merusak tubuh atlet. Bagi petenis asal Belarusia ini, kesehatan fisik kini menjadi prioritas mutlak. Ia bahkan menyatakan siap menerima sanksi denda atau pengurangan poin peringkat demi mendapatkan waktu istirahat yang layak.
Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Sistem Aturan Wajib yang Mengikat
Dalam konferensi pers usai laga perempat final Brisbane International pada Kamis (8/1), Sabalenka membandingkan situasi saat ini dengan era legenda tenis, Serena Williams. Menurutnya, pemain masa kini tidak lagi memiliki kemewahan untuk memilih turnamen sesuka hati seperti yang pernah dilakukan Serena.
“Musim ini benar-benar gila, dan itu faktanya. Aturannya cukup rumit dengan adanya turnamen wajib,” ujar Sabalenka dengan nada frustrasi. Ia menambahkan, “Apa yang dilakukan Serena dulu, aturannya berbeda. Sekarang, jika saya tidak cukup bermain di turnamen level 500, mereka mendenda kami dengan pengurangan poin. Itu terjadi pada saya dan Iga (Swiatek) musim lalu.”
Sikap ini bukan sekadar keluhan, melainkan bentuk “pemberontakan” halus terhadap sistem yang dianggapnya lebih mementingkan aspek komersial ketimbang perlindungan pemain.
Trauma Cedera dan Prioritas Kesehatan
Keputusan berani Sabalenka untuk absen di beberapa turnamen mendatang bukan tanpa alasan. Trauma cedera musim lalu masih membekas jelas dalam ingatannya. Petenis berusia 27 tahun ini sempat menderita cedera bahu yang memaksanya mundur dari Wimbledon. Ia tidak ingin mimpi buruk itu terulang di musim 2026 hanya karena memaksakan diri mengejar poin.
“Meskipun aturannya wajib, jika saya merasa tubuh saya butuh istirahat, saya akan mengambil istirahat itu,” tegasnya. Ia pun menyindir prioritas pemangku kebijakan tenis dunia. “Mereka tidak fokus melindungi kami semua; mereka fokus pada hal lain,” sindirnya, merujuk pada kepentingan bisnis penyelenggara.
Epidemi Kelelahan di Kalangan Petenis Elit
Apa yang disuarakan Sabalenka hanyalah puncak gunung es. Keluhan serupa juga datang dari pesaing terberatnya, Iga Swiatek, dan bintang muda Amerika Serikat, Coco Gauff. Swiatek sebelumnya telah menyoroti tekanan mental dan fisik akibat jadwal padat yang memicu burnout. Sementara Gauff menyebut tuntutan kompetisi di awal musim membuat pemain sulit membangun momentum tanpa kelelahan berlebih.
Catatan Mureks menunjukkan, sistem yang mewajibkan pemain Top 10 untuk berkompetisi setidaknya di 18 turnamen per tahun, ditambah empat Grand Slam, kini menjadi sorotan tajam. Kritik ini datang di saat yang krusial, ketika para pemain elit dihadapkan pada dilema: mematuhi aturan demi peringkat, atau “membangkang” demi umur panjang karier.






