Keuangan

Analisis Pasar 2026: IGA Diproyeksikan Ungguli SPY, Tawarkan Diversifikasi dan Imbal Hasil Menarik

Setelah berakhirnya tahun 2025, para investor kini meninjau kembali kinerja aset dalam portofolio mereka serta tesis investasi yang telah disusun. Dalam konteks ini, seorang analis berpengalaman memproyeksikan Voya Global Advantage and Premium Opportunity Fund (IGA) sebagai pilihan investasi yang lebih unggul dibandingkan SPDR S&P 500 ETF (SPY) untuk tahun 2026.

Menurut analisis yang dipublikasikan pada 3 Januari 2026, IGA hampir menyamai total imbal hasil SPY pada tahun 2025, dengan capaian 17,2%. Namun, IGA menunjukkan volatilitas yang lebih rendah dan pergerakan yang lebih stabil, memberikan pengalaman investasi yang lebih mulus bagi para pemegangnya.

Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.

Strategi dan Keunggulan IGA

Keunggulan IGA, menurut analis, terletak pada bias nilai (value bias) yang dianutnya, diversifikasi internasional yang luas, serta strategi covered call yang diterapkan. Kombinasi ini menghasilkan imbal hasil ke depan (forward yield) sebesar 10,49%. Jika dividen diinvestasikan kembali, IGA diproyeksikan mampu mengungguli SPY secara signifikan.

Diversifikasi internasional IGA dianggap krusial dalam menghadapi ketidakpastian pasar global. Strategi covered call juga berkontribusi pada pendapatan tambahan dan mitigasi risiko penurunan harga.

Risiko Konsentrasi SPY

Di sisi lain, SPY menghadapi risiko konsentrasi yang semakin intensif. Data menunjukkan bahwa sepuluh kepemilikan teratas dalam SPY kini mencapai 40% dari total portofolio. Dominasi sektor teknologi informasi (I.T.) juga meningkat, membuat SPY lebih rentan terhadap pembalikan momentum pasar.

Mureks mencatat bahwa risiko konsentrasi ini dapat menjadi perhatian serius bagi investor yang mencari stabilitas dan diversifikasi dalam portofolio mereka, terutama di tengah potensi gejolak pasar.

Proyeksi Pasar dan Rekomendasi

Analis tersebut mengantisipasi adanya penurunan pasar pada awal tahun 2026. Oleh karena itu, ia berencana untuk merotasi modal ke investasi yang lebih terdiversifikasi dan berorientasi nilai seperti IGA, sebagai persiapan menghadapi realokasi sektor.

Penulis artikel, yang memiliki gelar kehormatan di bidang ekonomi dan politik serta 36 tahun pengalaman dalam manajemen eksekutif di pasar global dan Asia Pasifik, menekankan pentingnya strategi investasi yang adaptif. Ia juga memiliki pengetahuan luas tentang asuransi/reasuransi, perubahan iklim, dan ESG, yang membentuk perspektifnya dalam analisis pasar.

Sebagai catatan, penulis menegaskan bahwa ia bukan penasihat investasi dan analisis yang dibagikan semata-mata untuk kepentingan pembaca, bukan sebagai saran investasi.

Mureks