Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melanjutkan penguatan pada perdagangan Selasa, 6 Januari 2026. Proyeksi ini muncul setelah IHSG mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada penutupan sesi sebelumnya, didorong sentimen positif dari data ekonomi domestik dan bursa regional Asia.
Analis memprediksi IHSG berpotensi naik ke rentang 8.852-8.905, menawarkan peluang bagi investor untuk mencermati saham-saham pilihan.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.
Herditya Wicaksana, Analis PT MNC Sekuritas, menjelaskan bahwa posisi IHSG saat ini berada pada bagian dari wave (v) dari wave [iii]. Kondisi ini mengindikasikan bahwa IHSG masih berpeluang menguat menuju area 8.852-8.905.
Menurut Herditya, level support IHSG berada di 8.705 dan 8.584, sementara level resistance-nya di 8.822 dan 8.870.
Senada, riset dari PT Pilarmas Investindo Sekuritas juga menyebutkan bahwa IHSG berpotensi menguat terbatas. Mereka menetapkan level support pada 8.730 dan level resistance pada 8.920.
Menyikapi potensi penguatan ini, sejumlah analis telah merilis rekomendasi saham pilihan untuk perdagangan hari ini.
PT Pilarmas Investindo Sekuritas merekomendasikan saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB), dan PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN).
Sementara itu, Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas memilih PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI).
Rekomendasi Teknikal Pilihan Analis
1. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) – Buy on Weakness
Saham ENRG menguat 3,35 persen ke level 1.695, didominasi oleh volume pembelian meskipun cenderung menurun. Herditya memperkirakan, posisi ENRG saat ini berada pada bagian dari wave [iv] dari wave 5.
- Buy on Weakness: 1.550-1.630
- Target Price: 1.800, 1.895
- Stoploss: below 1.490
2. PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) – Buy on Weakness
PSAB menguat 5,41 persen ke 585, disertai peningkatan volume pembelian dan mampu bergerak di atas MA60. Herditya menyatakan, “Kami memperkirakan, posisi PSAB saat ini berada di awal wave [c] dari wave B.”
- Buy on Weakness: 555-575
- Target Price: 605, 645
- Stoploss: below 545
3. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) – Spec Buy
Saham TPIA ditutup flat di 7.125 dengan tekanan jual. Herditya menuturkan, “Selama masih mampu berada di atas 6.825 sebagai stoploss-nya, posisi TPIA saat ini berada pada bagian akhir dari wave [b] dari wave A.”
- Spec Buy: 6.900-6.975
- Target Price: 7.225, 7.500
- Stoploss: below 6.825
4. PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) – Buy on Weakness
WIFI menguat 6,01 persen ke 3.530 dengan peningkatan volume pembelian, namun belum mampu menembus MA20. “Saat ini, kami memperkirakan, posisi WIFI berada pada bagian dari wave C dari wave (B),” kata Herditya.
- Buy on Weakness: 3.430-3.500
- Target Price: 3.780, 3.930
- Stoploss: below 3.310
Kinerja IHSG dan Sentimen Pendorong
Pada perdagangan Senin, 5 Januari 2026, IHSG ditutup menguat signifikan sebesar 111,06 poin atau 1,27 persen, mencapai posisi 8.859,19. Indeks saham unggulan LQ45 juga turut menguat 7,77 poin atau 0,91 persen ke level 859,77.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menjelaskan bahwa penguatan IHSG sejalan dengan bursa regional Asia. “Dukungan katalis positif rilis data ekonomi dalam negeri, di mana posisi neraca perdagangan Indonesia bulan November 2025 mencatatkan surplus dan inflasi terjaga,” ujar Nico di Jakarta, Senin.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 mencatatkan surplus sebesar 2,66 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Sementara itu, inflasi Desember 2025 tercatat 0,64 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) dan 2,92 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Secara keseluruhan, laju inflasi Indonesia sepanjang 2025 dinilai tetap terjaga dan masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia (BI) sebesar 1,5 hingga 3,5 persen. Kondisi ini memberikan optimisme bagi pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional, Mureks mencatat bahwa stabilitas ini menjadi fondasi penting bagi pasar modal.
Dari mancanegara, pelaku pasar cenderung mengabaikan kekhawatiran geopolitik menyusul serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela. Fokus investor justru beralih ke data ekonomi Tiongkok yang menunjukkan aktivitas bisnis masih berada di zona ekspansif.
Survei sektor swasta menunjukkan aktivitas bisnis Tiongkok bertahan ekspansif selama tujuh bulan berturut-turut. Pada Desember 2025, indeks tercatat di level 52,0, sedikit menurun dibandingkan November 2025 yang berada di 52,1. Data tersebut mencerminkan dukungan dari aktivitas sektor jasa yang lebih kuat serta peningkatan kembali produksi pabrik.
Presiden Tiongkok Xi Jinping juga mengisyaratkan kebijakan makro yang lebih proaktif pada 2026 guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Pada penutupan perdagangan Senin, frekuensi transaksi tercatat sebanyak 4.010.984 dengan volume 70,26 miliar saham dan nilai transaksi mencapai Rp30,32 triliun. Sebanyak 446 saham menguat, 246 saham melemah, dan 114 saham stagnan.
Di kawasan Asia, bursa regional juga bergerak positif. Indeks Nikkei melonjak 2,97 persen, Shanghai Composite naik 1,38 persen, dan Strait Times menguat 0,52 persen.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham.






