Iran memberlakukan pemadaman internet nyaris total pada Kamis, 8 Januari 2026, di tengah gelombang protes anti-pemerintah yang telah berlangsung selama 12 hari berturut-turut. Langkah ini secara efektif memutus komunikasi warga Iran dari dunia luar, bahkan layanan internet satelit Starlink dilaporkan turut terdampak.
Pemadaman Jaringan dan Dampaknya
Pemadaman jaringan dimulai sekitar pukul 18.45 UTC (22.15 waktu setempat). Organisasi pemantau jaringan global mengonfirmasi penurunan drastis ini. Cloudflare Radar, melalui platform X, melaporkan bahwa lalu lintas internet di Iran anjlok hingga “mendekati nol,” menandakan penghentian total. Catatan Mureks menunjukkan, konektivitas nasional Iran kini hanya berada di kisaran 1% dari level normal, menurut data NetBlocks. Sebelum pemadaman total, penurunan tajam pada lalu lintas IPv6 telah terdeteksi, mengindikasikan pemerintah melakukan pemblokiran akses internet secara selektif seiring intensifikasi protes.
Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.
Amir Rashidi, Direktur Keamanan Internet dan Hak Digital di Miaan Group, membenarkan bahwa akses global terputus, namun jaringan seluler domestik—yang sering disebut Jaringan Informasi Nasional—masih berfungsi di dalam negeri. Rashidi juga melaporkan gangguan pada panggilan telepon internasional ke Iran, sebuah situasi yang ia sebut “kami saksikan juga selama perang.”
VPN dan Starlink Ikut Terganggu
Meskipun aplikasi VPN sering digunakan untuk melewati sensor, layanan ini tidak efektif saat terjadi pemadaman internet nasional karena membutuhkan koneksi aktif. Proton VPN melaporkan penurunan signifikan pada lalu lintasnya dari Iran, mengonfirmasi infrastruktur yang memungkinkan akses internet telah dimatikan sepenuhnya.
Warga Iran dilaporkan beralih ke koneksi Starlink, yang secara teoritis kebal terhadap pembatasan internet tradisional karena mengandalkan infrastruktur satelit. Namun, Rashidi dan sumber-sumber lain di Iran mengindikasikan bahwa pemerintah kini menargetkan koneksi ini. Dengan mengganggu sinyal GPS dan satelit, pihak berwenang dilaporkan telah menurunkan kinerja Starlink, dengan data menunjukkan kehilangan paket (packet loss) mencapai 30%.
Kutipan Ahli dan Kekhawatiran Hak Asasi
“Saya telah memantau dan meneliti akses internet selama 20 tahun terakhir, dan saya belum pernah melihat hal seperti ini dalam hidup saya,” ujar Rashidi kepada TechRadar, menggambarkan tingkat keparahan situasi. Mureks merangkum, pemadaman internet total ini merupakan salah satu yang terburuk yang pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir, seperti diungkapkan oleh Azam Jangravi.
Azam Jangravi, Analis Keamanan Informasi di Citizen Lab, mengonfirmasi bahwa sebagian besar warga tetap terputus dari internet global. “Ini adalah salah satu pemadaman terburuk yang pernah kami lihat dalam beberapa tahun,” katanya. Jangravi menambahkan, “Pemadaman semacam ini sangat menghancurkan. Orang tidak bisa berbagi apa yang terjadi, tidak bisa menghubungi orang yang dicintai, tidak bisa bekerja atau belajar. Ini mengisolasi.”
Latar Belakang Protes dan Risiko Eskalasi
Aksi unjuk rasa anti-pemerintah massal telah meletus di berbagai kota di Iran sejak akhir Desember 2025, dipicu oleh krisis ekonomi negara yang semakin dalam. Demonstrasi ini disebut sebagai yang terbesar di Iran sejak gerakan tahun 2022 menyusul kematian Mahsa Amini. France 24 melaporkan, setidaknya 42 orang tewas sejauh ini dalam tindakan keras terbaru, menurut pengamat hak asasi manusia.
Jangravi memperingatkan bahwa pemadaman internet yang sedang berlangsung dapat mengaburkan kekerasan lebih lanjut, menyebabkan situasi memburuk dengan cepat. “Risikonya sangat besar,” ujarnya kepada TechRadar. “Tanpa internet, tidak ada cara untuk mendokumentasikan pelanggaran atau mengorganisir diri dengan aman. Saya khawatir hal-hal bisa meningkat. Tapi saya juga tahu orang Iran tangguh. Mereka selalu menemukan cara untuk berbicara, bahkan dalam kegelapan.”






