Jakarta, Mureks – Di tengah gejolak ekonomi global dan tekanan rantai pasok yang terus berlanjut, investasi pada teknologi seringkali hanya dipandang sebagai strategi penghematan biaya operasional. Namun, sebuah laporan terbaru mematahkan pandangan tersebut, menunjukkan korelasi langsung antara adopsi teknologi canggih dengan peningkatan kinerja finansial di sektor transportasi dan logistik (T&L).
Laporan bertajuk “Elevating Transportation and Logistics Value: The Impact of Intelligent Operations” yang dirilis oleh Zebra Technologies dan Oxford Economics, menyoroti bagaimana organisasi yang menerapkan “Operasi Cerdas” berhasil meraih keuntungan kompetitif yang signifikan. Survei terhadap lebih dari 200 pengambil keputusan di industri T&L global mengungkapkan dampak positif yang nyata pada neraca keuangan perusahaan.
Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Temuan paling mencolok adalah pertumbuhan pendapatan. Organisasi T&L yang memprioritaskan peningkatan manajemen inventaris dan kontrol—area krusial dalam rantai pasok—melaporkan pertumbuhan pendapatan 3,4 poin persentase lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang tidak melakukan perbaikan serupa.
Tidak hanya pendapatan kotor (top-line), profitabilitas (bottom-line) juga ikut terkerek. Perusahaan yang telah menjalani transformasi digital ini mencatatkan profitabilitas 2,2 poin persentase lebih tinggi selama satu tahun terakhir. Angka ini menegaskan bahwa investasi pada teknologi seperti sensor, komputasi seluler, dan analitik data memberikan Return on Investment (ROI) yang solid, sekaligus menjawab tantangan utama industri di mana 47% pemimpin bisnis menempatkan peningkatan profitabilitas dan ROI sebagai prioritas utama.
Mureks mencatat bahwa laporan tersebut juga memberikan ilustrasi skala ekonomi yang masif. Jika 20 organisasi T&L teratas dalam daftar Forbes Global 2000 berhasil mencapai perbaikan alur kerja yang berarti, analisis ekonometrik memproyeksikan potensi kenaikan pendapatan agregat sebesar USD23,7 miliar dan lonjakan laba hingga USD1,1 miliar.
Keuntungan finansial ini didorong oleh lonjakan efisiensi di lapangan. “Operasi Cerdas” mengintegrasikan teknologi canggih seperti AI dan otomatisasi dengan keahlian manusia. Hasilnya, organisasi yang telah mengimplementasikan perbaikan alur kerja secara bermakna melaporkan peningkatan rata-rata produktivitas karyawan sebesar 21% dalam dua tahun terakhir. Peningkatan ini terjadi karena teknologi mampu menghilangkan hambatan manual, misalnya melalui penggunaan perangkat seluler dan pemindai barcode yang memungkinkan pekerja gudang dan pengemudi bekerja lebih cepat dan akurat.
Meskipun potensi keuntungannya besar, laporan ini juga memperingatkan bahwa sekadar membeli perangkat keras tidaklah cukup. Kunci untuk membuka nilai ekonomi ini terletak pada manajemen data yang efektif. Sayangnya, tiga perempat responden mengakui bahwa analisis data di perusahaan mereka masih terbatas atau terkotak-kotak (siloed).
Untuk mencapai pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas yang diproyeksikan, perusahaan logistik didorong untuk beralih ke operasi yang benar-benar cerdas. Ini berarti data harus mengalir lancar dari gudang hingga ke tangan pelanggan, memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan strategis di seluruh rantai pasok.





