Di tengah masifnya aktivitas digital yang mencakup media sosial, perbankan daring, hingga pekerjaan berbasis komputasi awan, kata sandi tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga keamanan data. Ironisnya, banyak pengguna internet merasa telah “cukup aman”, padahal tanpa disadari justru melakukan kekeliruan fatal dalam pengelolaan kata sandi mereka. Kondisi inilah yang terus memicu insiden kebocoran data dan pembajakan akun dari tahun ke tahun.
Ancaman Peretasan di Tengah Era Digital: 7 Kesalahan Fatal Pengelolaan Kata Sandi
Tim redaksi Mureks merangkum tujuh kesalahan kata sandi paling umum yang kerap dimanfaatkan peretas, beserta tips keamanan siber terbaru untuk melindungi akun pribadi maupun profesional:
Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.
1. Password Lemah dan Mudah Ditebak
Penggunaan kata sandi sederhana seperti “123456”, “password”, atau pola keyboard yang mudah ditebak masih marak. Jenis kata sandi ini dapat diretas dalam hitungan detik menggunakan perangkat otomatis. Pakar keamanan kini merekomendasikan penggunaan passphrase panjang, yakni rangkaian kata acak atau kalimat unik dengan panjang minimal 12 karakter. Semakin panjang kata sandi, semakin sulit pula upaya peretasan. Panjang karakter terbukti lebih efektif dibandingkan sekadar menambahkan simbol atau angka yang mudah ditebak.
2. Penggunaan Kata Sandi yang Sama di Berbagai Platform
Memakai satu kata sandi untuk beragam platform merupakan kesalahan klasik dengan dampak yang sangat besar. Ketika satu akun berhasil dibobol, peretas umumnya akan langsung mencoba kredensial yang sama di layanan lain, mulai dari email hingga akun keuangan. Solusi paling efektif adalah menggunakan kata sandi unik untuk setiap akun, dibantu dengan aplikasi pengelola kata sandi (password manager). Aplikasi ini mampu menyimpan dan membuat kata sandi acak secara aman tanpa perlu dihafal satu per satu.
3. Mengabaikan Two-Factor Authentication (2FA)
Banyak pengguna masih mengabaikan fitur autentikasi dua faktor (2FA), padahal fitur ini mampu menurunkan risiko pembajakan akun secara signifikan. Dengan 2FA, proses masuk tidak hanya bergantung pada kata sandi, tetapi juga lapisan verifikasi tambahan seperti kode OTP, aplikasi autentikator, atau biometrik. Kini, teknologi keamanan mulai beralih ke MFA yang tahan phishing, seperti passkey berbasis FIDO2, yang membuat kata sandi curian tidak dapat digunakan di situs palsu.
4. Metode Penyimpanan Kata Sandi yang Tidak Aman
Menulis kata sandi di kertas, menyimpannya di catatan ponsel, atau dalam berkas tanpa enkripsi adalah kebiasaan berbahaya. Jika perangkat hilang atau diakses oleh pihak tidak bertanggung jawab, seluruh akun bisa langsung terancam. Pengelola kata sandi dengan enkripsi tingkat tinggi menjadi pilihan paling aman. Dalam skala organisasi, sistem penyimpanan kata sandi juga seharusnya menggunakan metode hashing dan salting agar data tetap aman meskipun terjadi kebocoran.
5. Memanfaatkan Informasi Pribadi sebagai Kata Sandi
Nama, tanggal lahir, atau nama hewan peliharaan sering dijadikan kata sandi karena mudah diingat. Namun, informasi ini sangat mudah ditemukan melalui media sosial. Peretas sering memanfaatkan teknik rekayasa sosial (social engineering) untuk menebak kata sandi berdasarkan data pribadi korban. Menggunakan kata acak yang tidak berkaitan dengan identitas pribadi adalah langkah paling aman.
6. Kesalahpahaman tentang Pergantian Kata Sandi Berkala
Dahulu, pengguna disarankan mengganti kata sandi secara rutin. Namun, standar keamanan modern, termasuk dari NIST (National Institute of Standards and Technology), kini merekomendasikan kata sandi hanya diganti jika ada indikasi kebocoran atau aktivitas mencurigakan. Pergantian kata sandi yang terlalu sering justru membuat pengguna cenderung memilih kombinasi yang lemah dan mudah ditebak. Fokus utama seharusnya pada kekuatan kata sandi dan pemantauan aktivitas akun.
7. Rentan Terhadap Serangan Phishing dan Rekayasa Sosial
Phishing masih menjadi metode favorit penjahat siber. Email palsu, pesan instan mencurigakan, atau situs login tiruan sering digunakan untuk mencuri kata sandi. Kewaspadaan pengguna menjadi kunci utama. Selalu periksa alamat pengirim, hindari mengeklik tautan mencurigakan, dan gunakan autentikasi yang tahan phishing untuk meminimalkan risiko.
Langkah Tambahan untuk Keamanan Kata Sandi Optimal di 2025
Selain menghindari tujuh kesalahan di atas, ada beberapa langkah lanjutan untuk memperkuat keamanan akun digital Anda:
- Gunakan passphrase dengan panjang 12–16 karakter atau lebih.
- Aktifkan autentikasi multi-faktor (MFA) di semua akun penting.
- Periksa secara berkala apakah kata sandi Anda pernah bocor dalam insiden data publik.
- Batasi hak akses akun dengan prinsip least privilege.
- Gunakan sistem pemulihan akun yang aman dan berlapis.
- Tingkatkan literasi keamanan siber secara berkala.
Dengan menerapkan kebiasaan pengelolaan kata sandi yang tepat dan mengikuti panduan keamanan siber terbaru, risiko pencurian data dapat ditekan secara signifikan, menjaga aset digital Anda tetap aman.






