SLEMAN, Mureks – Sebanyak 22 mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta mengalami keracunan pangan massal usai mengikuti kegiatan pembelajaran Early Clinical Exposure (ECE) di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Grhasia, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Insiden ini terjadi pada Senin, 30 Desember 2025, setelah para peserta mengonsumsi makanan ringan yang disediakan.
Para mahasiswa yang terdampak menunjukkan gejala seperti mual, muntah, diare, demam, dan pusing. Seluruh korban sempat mendapatkan penanganan medis intensif di sejumlah rumah sakit di wilayah DIY.
Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id
Dua Mahasiswa Masih Dirawat Inap
Direktur RSJ Grhasia, Akhmad Ahadi, dalam konferensi pers yang digelar di RSJ Grhasia pada Senin, 5 Januari 2026, menyampaikan perkembangan terkini kondisi para mahasiswa. Mayoritas korban telah dinyatakan pulih dan diizinkan pulang.
“Sampai hari ini tanggal 5 Januari 2026. Dari 22 korban atau orang terdampak yang dirawat inap di beberapa rumah sakit itu semuanya 20 sudah dipulangkan dikarenakan sembuh. Sekarang masih ada dua (yang rawat inap),” terang Ahadi.
Mureks mencatat bahwa mahasiswa yang sempat dirawat tersebar di beberapa fasilitas kesehatan, meliputi RSJ Grhasia, RS Queen Latifa, RS PKU Gamping, RS Condongcatur, dan RS Sakinah Idaman. Seluruh mahasiswa terdampak diketahui berasal dari Fakultas Ilmu Kesehatan UNISA Yogyakarta.
Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UNISA Yogyakarta, Dewi Rokhanawati, turut memastikan kondisi mahasiswanya menunjukkan perbaikan signifikan. “Terkait dengan pemantauan sampai ini tadi pagi tadi kita pantau insyaallah kondisi mahasiswa kami membaik dari awal mereka memang dinyatakan rawat inap di Rumah Sakit,” ujar Dewi.
Risoles Mayo Diduga Jadi Pemicu
Penyelidikan awal mengarah pada salah satu jenis makanan ringan yang dikonsumsi, yakni risoles mayo. Selain risoles mayo, peserta juga mengonsumsi tahu sarang burung dan banana cake. Seluruh kudapan tersebut diproduksi oleh pihak ketiga dari jasa katering di wilayah Sleman.
Ahadi menjelaskan, berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi awal, risoles mayo dinilai paling berisiko menjadi penyebab keracunan. “Manakah yang kemudian patut diduga yang menjadi penyebab? Belum tahu. Ya, tapi secara kronologis dari ketiga bahan pangan itu atau ketiga snack itu yang paling rentan ditinjau dari aspek perlakuan pengelolaan itu adalah mayo,” paparnya.
Ia menambahkan, risoles mayo tersebut diproduksi sehari sebelum kegiatan dan sempat disimpan sebelum dikirim ke rumah sakit. “Berdasarkan penelusuran kami di dalam penyelidikan epidemiologi risol mayo itu diproduksi pada hari Minggu (28/12). Minggu karena kemudian itu baru di dikirim besok maka disimpan di dalam freezer. Paginya Senin (29/12) pagi subuh itu baru digoreng dan kemudian pukul 8 itu sudah sampai ke rumah sakit,” kata Ahadi.
Meski demikian, Ahadi kembali menekankan bahwa dugaan tersebut belum dapat disimpulkan secara final. “Yang patut diduga loh, patut diduga,” tegasnya, menanti hasil uji laboratorium resmi dari Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi Dinas Kesehatan DIY.
Vendor Tanggung Biaya Perawatan
Terkait biaya perawatan, Ahadi menyebut sebagian ditanggung melalui skema jaminan sosial. Namun, bagi mahasiswa yang tidak memiliki jaminan BPJS Ketenagakerjaan, biaya perawatan akan dibebankan sepenuhnya kepada pihak penyedia makanan.
“Bagi orang terdampak yang tidak memiliki jaminan BPJS Ketenagakerjaan, tadi saya sudah menyebutkan itu kami melibatkan penyedia. Jadi, semua yang tidak ditanggung BPJS Ketenagakerjaan, biaya perawatan dan penyembuhannya itu akan dibebankan kepada penyedia, termasuk untuk pemeriksaan laboratorium,” jelas Ahadi.
Ahadi juga menegaskan bahwa kasus ini tidak akan dibawa ke ranah hukum. “Jadi tetap dimintai pertanggungjawaban. Pertanggungjawabannya adalah pertanggungjawaban moral dan kekeluargaan. Not pertanggungjawaban hukum,” pungkasnya.






