Wolverhampton Wanderers (Wolves) menutup paruh pertama English Premier League (EPL) musim 2025/2026 di posisi terbawah klasemen. Tim berjuluk Wolves tersebut hanya mampu mengumpulkan tiga poin dari 19 pertandingan yang telah dilakoni. Meski demikian, Wolves mulai menunjukkan secercah harapan pada pekan ke-20 dengan meraih kemenangan perdana musim ini, menghajar West Ham United 3-0.
Namun, upaya Wolves untuk bertahan di kasta tertinggi Liga Inggris tentu masih sangat panjang. Hasil positif melawan West Ham belum bisa menjadi patokan kebangkitan mengingat The Hammers juga sedang dalam performa terpuruk. Lebih lanjut, tren terbaru yang dicatat Mureks menunjukkan bahwa tim-tim yang menjadi juru kunci EPL pada paruh musim, pada akhirnya selalu terdegradasi. Berikut adalah nasib tim-tim tersebut dalam lima musim terakhir.
Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id
1. Sheffield United (2020/2021): Bangkit di Paruh Kedua, Tetap Terdegradasi
Sheffield United tercatat dua kali finis sebagai juru kunci EPL dalam lima musim terakhir. Pada kesempatan pertama di musim 2020/2021, mereka sudah berada di peringkat terbawah sejak paruh musim. Kala itu, Sheffield United hanya mengoleksi lima poin dari 19 laga pertama, hasil dari satu kemenangan dan dua kali seri.
Memasuki paruh kedua musim, performa Sheffield United sempat membaik. Mereka berhasil meraih enam kemenangan, termasuk kemenangan mengejutkan atas Manchester United di Old Trafford. Namun, peningkatan performa tersebut tidak cukup mengangkat The Blades dari dasar klasemen hingga akhir musim. Mereka bahkan sudah dipastikan terdegradasi saat kompetisi masih menyisakan enam pekan.
2. Norwich City (2021/2022): Terjebak di Zona Degradasi Sepanjang Musim
Pada musim 2021/2022, Norwich City menjadi salah satu tim promosi yang berkompetisi di EPL setelah menjuarai EFL Championship musim sebelumnya. Sayangnya, Norwich justru menjadi bulan-bulanan tim-tim lain. Mereka langsung masuk zona degradasi sejak pekan pertama dan tidak pernah keluar hingga pekan terakhir.
Sepanjang musim tersebut, Norwich hampir selalu menjadi juru kunci, termasuk saat paruh musim. Mereka hanya sesekali naik ke peringkat ke-19, misalnya pada pekan ke-24 hingga ke-26 berkat tiga laga tak terkalahkan secara beruntun. Namun, setelah itu Norwich kembali terpuruk dan terus mengendap di peringkat terbawah klasemen.
3. Southampton (2022/2023): Terdegradasi Meski Sempat Raih Hasil Apik
Southampton juga dua kali mengakhiri musim di dasar klasemen EPL dalam lima musim terakhir. Yang pertama terjadi pada musim 2022/2023. Hasil ini cukup mengejutkan mengingat Southampton selalu bertahan di EPL selama sepuluh musim sebelumnya, bahkan finis di sepuluh besar klasemen empat kali beruntun pada 2014–2017.
Kiprah Southampton di EPL 2022/2023 sempat diwarnai beberapa hasil apik. Mereka berhasil dua kali mengalahkan Chelsea serta mencuri poin dari Arsenal, Manchester United, dan Liverpool. Namun, The Saints justru melempem saat menghadapi tim-tim papan tengah ke bawah. Akibatnya, Southampton terpuruk di peringkat terbawah baik pada paruh musim maupun akhir kompetisi.
4. Sheffield United (2023/2024): Kebobolan 104 Gol dan Finis di Dasar Klasemen
Sheffield United kembali ke EPL sebagai tim promosi pada musim 2023/2024. Namun, performa mereka tidak membaik dibandingkan musim 2020/2021, bahkan cenderung lebih buruk. The Blades hanya mengoleksi total 16 poin dari tiga kemenangan dan tujuh hasil imbang. Mereka juga menghuni peringkat terbawah sejak pekan ke-15 hingga pekan ke-38.
Pertahanan yang rapuh menjadi salah satu penyebab utama performa amburadul Sheffield United. Gawang mereka kebobolan total 104 gol, sebuah rekor terbanyak dalam satu musim Premier League. Sheffield United juga sempat dihajar 0-8 oleh Newcastle United, yang menjadi rekor kekalahan terbesar mereka di liga domestik.
5. Southampton (2024/2025): Degradasi Tercepat dalam Sejarah EPL
Terakhir, ada Southampton, yang kembali menutup musim sebagai juru kunci EPL pada musim 2024/2025 lalu. Sepanjang musim, Southampton hanya sempat berada di luar zona degradasi selama dua pekan. Mereka mulai menghuni peringkat terbawah sejak pekan ke-12 dan tidak pernah bisa beranjak hingga kompetisi selesai.
Southampton bahkan sudah dipastikan turun kasta saat musim masih menyisakan tujuh pekan. Ini merupakan rekor degradasi tercepat dalam sejarah Premier League. Dengan hanya dua kemenangan dan enam hasil imbang, The Saints juga hanya meraih 12 poin, catatan poin terendah kedua dalam satu musim Premier League.
Lima tim terakhir yang berada di dasar klasemen EPL pada paruh musim akhirnya terdegradasi, bahkan kelimanya turun kasta dengan status juru kunci klasemen akhir. Apakah nasib serupa juga akan dialami Wolverhampton Wanderers pada akhir EPL 2025/2026?
Referensi penulisan: www.idntimes.com





