Tiga warga negara Indonesia (WNI) dilaporkan terjebak di Pulau Socotra, Yaman selatan, menyusul eskalasi konflik antara kelompok yang didukung Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Pembatalan penerbangan secara mendadak sejak awal Januari 2026 membuat para wisatawan, termasuk WNI, tidak dapat meninggalkan pulau yang kerap disebut sebagai “tempat persembunyian Dajjal” itu.
Salah satu WNI yang terjebak, Subarkah, mengungkapkan bahwa penerbangan dari dan menuju bandara utama Socotra ditutup sejak 1 Januari. “Beberapa penerbangan keberangkatan yang dijadwalkan pada tanggal ini dibatalkan. Para wisatawan yang diperkirakan akan berangkat pada periode tersebut, termasuk tiga warga negara Indonesia, tidak dapat meninggalkan Socotra,” kata Subarkah saat dihubungi CNNIndonesia.com pada Jumat (9/1).
Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Subarkah menambahkan, selama terdampar di Socotra, ia dan WNI lainnya harus menanggung seluruh biaya hidup dan evakuasi secara mandiri. Setiap hari, pengeluaran mencapai US$75. Jika dihitung dari 1 hingga 9 Januari, total biaya yang dikeluarkan mencapai sekitar US$675 atau setara Rp11 juta.
Selain itu, tiket penerbangan sebelumnya hangus akibat konflik, memaksa Subarkah membeli tiket baru seharga US$1.250. “Kita harus bayar sendiri termasuk semua biaya overstay dan biaya tiket evakuasi dari Socotra ke Jeddah,” tegasnya.
Kronologi Konflik Yaman yang Menjebak WNI
Gejolak di Yaman yang berujung pada terdamparnya para turis ini bermula dari perebutan wilayah di Provinsi Hadramaut, Yaman selatan, oleh Dewan Transisi Selatan (STC) yang didukung Uni Emirat Arab pada awal Desember 2025. Sementara itu, Arab Saudi mendukung Dewan Kepemimpinan Presiden di bawah kendali Rashad Mohammed Al Alimi.
Pada 30 Desember, koalisi Saudi melancarkan serangan ke Pelabuhan Mukalla, menargetkan kapal kargo UEA yang diduga membawa senjata untuk mendukung STC. Merespons serangan tersebut, pemerintah Yaman mendeklarasikan status darurat dan menuntut penarikan pasukan UEA dalam waktu 24 jam.
Eskalasi berlanjut pada 2 Januari, ketika Saudi menyerang pangkalan militer STC di Hadramaut, menyebabkan kerusakan signifikan. Dua hari kemudian, pasukan afiliasi STC dilaporkan membalas dengan menyerang pasukan koalisi Saudi di Pulau Socotra. Situasi ini memperburuk keamanan dan memperkuat pembatasan operasional penerbangan sipil dari dan ke Socotra.
Di hari yang sama, koalisi pasukan Saudi dan pemerintah Yaman memasuki Aden, wilayah selatan Yaman yang sempat dikuasai STC, dan mulai merebut daerah-daerah lain. Imbas pertempuran proksi antara Saudi dan UEA ini, ratusan turis asing, termasuk tiga WNI, terjebak di Socotra.
Upaya Pemulangan dan Intervensi Diplomatik
Akses penerbangan dari Socotra sempat dibuka secara terbatas pada 7 Januari. Subarkah menjelaskan bahwa kursi penumpang dialokasikan kepada warga negara yang perwakilan diplomatiknya melakukan intervensi intens. Namun, “Tiga warga negara Indonesia tetap tertahan di Socotra,” ujarnya.
Subarkah juga menerima informasi mengenai dua penerbangan tambahan yang dijadwalkan dalam waktu dekat. Namun, akses terhadap penerbangan tersebut tetap terbatas dan sangat bergantung pada intervensi diplomatik. Mureks merangkum, situasi ini menunjukkan betapa krusialnya peran perwakilan negara dalam kondisi darurat seperti ini.
Duta Besar Indonesia untuk Yaman dan Oman, Mohamad Irzan Djohan, mengonfirmasi bahwa Kementerian Luar Negeri Yaman telah memasukkan WNI dalam daftar penumpang untuk penerbangan ke Jeddah. “Tiket WNI telah issued [diterbitkan] untuk penerbangan Yemenia Airways IY 5000, 9 Januari 2026, dengan estimasi keberangkatan 10.30 waktu Socotra, perkiraan tiba 13.30 waktu Jeddah,” kata Irzan kepada CNN Indonesia.
Subarkah sendiri telah memegang tiket untuk keluar dari Socotra. “Kami sudah memiliki tiket dan menunggu penerbangan dari Yemenia Airways,” pungkasnya, berharap dapat segera kembali ke Tanah Air.






