Teknologi

will.i.am: Musik AI ‘Luar Biasa’ dan ‘Pembebas’, Ungkap Keterlibatan di Balik Speaker LG XBOOM

Musisi dan inovator teknologi will.i.am kembali mencuri perhatian di ajang Consumer Electronics Show (CES) 2026. Ia hadir untuk memperkenalkan jajaran speaker LG XBOOM terbaru, yang sekali lagi merupakan hasil kolaborasinya dengan raksasa elektronik Korea Selatan tersebut. will.i.am, yang dikenal sebagai salah satu pendiri Black Eyed Peas, telah lama berkecimpung di dunia teknologi, termasuk menjadi investor kunci dalam peluncuran awal Beats dan meluncurkan produk teknologinya sendiri seperti Buttons serta layanan radio personalisasi berbasis AI, RAiDiO.FYI.

Dalam wawancara eksklusif di CES 2026, will.i.am membeberkan keterlibatan teknisnya dalam penyetelan suara speaker LG XBOOM, pandangannya tentang musik yang dihasilkan AI, pentingnya pusat manufaktur seperti Shenzhen, dan dampak negatif TikTok terhadap industri musik.

Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id

Membentuk Karakter Suara LG XBOOM

Ini adalah kali kedua will.i.am berkolaborasi dengan LG untuk lini speaker XBOOM. Ia mengungkapkan antusiasmenya untuk mengembangkan estetika desain dan performa audio dari model sebelumnya.

The Stage 301 was for me the hero last year, so [I wanted to] expand that POV – that design aesthetic, where it’s positioned like your traditional stage monitor, with the precision and audio dynamics of a studio monitor, and the portability of a Bluetooth speaker,” jelas will.i.am, merujuk pada model Stage 301 yang sukses tahun lalu. Ia menambahkan bahwa tahun ini, lini tersebut diperluas dengan Stage 501 yang lebih besar.

Selain itu, will.i.am juga memperkenalkan koleksi aksesori baru, termasuk ‘boombags’ dan ‘boombelt’ untuk speaker XBOOM Mini. “this year I have a capsule collection of ‘boombags’, to hopefully inspire other designers out there to see speakers as something to wear,” ujarnya. Ia terinspirasi dari pengalamannya dengan Beats, di mana orang-orang mengenakan earbuds mereka layaknya perhiasan. “My other go around in audio with Beats, people wore their buds. They just didn’t wear the buds; they put them around their neck like jewelry – and so borrowing from that, I have my boombags, and we’re going to do the same for a new item, the xboom Mini,” tambahnya.

Proses kolaborasi dengan LG digambarkan sebagai upaya mendalam dalam penyetelan dan desain bersama. will.i.am dan timnya bertanggung jawab penuh atas penyetelan audio, memanfaatkan pengalaman lebih dari 20 tahun dalam desain suara, EQ, dan mixing untuk berbagai artis, mulai dari Black Eyed Peas hingga Mary J. Blige, Mariah Carey, Whitney Houston, Michael Jackson, John Legend, Rolling Stones, dan U2.

My audio engineering team really gets in there to make sure everything sounds right, and to outperform the competitors as far as [recreating] the studio experience,” kata will.i.am. Ia menjelaskan bahwa ‘suara yang tepat’ berarti menciptakan profil audio yang cocok untuk semua genre musik, bukan hanya satu genre spesifik. “When you’re making a speaker, you gotta think of all songs, all genres. You can’t think of just, like, ‘Yo, this is gonna be great for trap music,’ cause it’s gonna sound horrible for classical music,” tegasnya.

Menurut Mureks, kolaborasi ini menunjukkan dedikasi will.i.am dalam menghadirkan pengalaman audio berkualitas tinggi yang melampaui sekadar dukungan nama. Timnya menggunakan analisis spektrum dan membandingkan speaker kompetitor untuk memastikan kualitas suara. Lagu favoritnya untuk menyetel audio adalah ‘Take Five’. “One: It’s my favorite song. The rim, the ride, the acoustic drum kit is the most perfect recording of that soft drum playing, isolated by itself. And then the piano that comes in, and then the bass – but it’s not low bass, it’s an acoustic bass, so I get to hear it well. It’s so well mixed. And then the sax feels like it’s… like I can hear the spit on the reed,” ungkapnya, menggambarkan detail yang ia cari dalam sebuah rekaman.

Shenzhen: Pusat Inovasi yang Menginspirasi

will.i.am juga menyoroti perubahan besar dalam dunia teknologi yang ia saksikan selama satu dekade terakhir, terutama peran Shenzhen, Tiongkok, sebagai pusat manufaktur dan prototipe cepat. “This place is… Wow. This place is amazing, bro. Like, the things that can be made now. I get goosebumps just thinking about it, how awesome Shenzhen is,” katanya penuh kekaguman.

Ia berharap setiap negara memiliki pusat inovasi serupa. “I wish London had a Shenzhen. I wish France had a Shenzhen. Every country’s creative hub needs a Shenzhen,” ujarnya. will.i.am bahkan telah mendirikan lab 3D printing sendiri di Los Angeles untuk memungkinkan prototipe cepat. “The Kinko’s for consumer electronics doesn’t exist, my dude,” keluhnya, merujuk pada kebutuhan akan fasilitas yang memungkinkan kreator mewujudkan ide-ide perangkat keras dengan cepat.

Musik AI: Pembebas, Bukan Ancaman

Mengenai musik yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI), will.i.am memiliki pandangan yang positif. Ia tidak melihatnya sebagai ancaman, setidaknya untuk saat ini. “AI-generated music is awesome. Really awesome,” katanya.

Ia membedakan antara musik yang dihasilkan AI dengan campur tangan manusia dan musik yang sepenuhnya otonom. “Somebody’s still generating it. So I’m not worried about that. When the machine’s just fucking doing it on its own? Talk to me when we get there,” tegasnya. Bagi will.i.am, musik AI adalah alat yang memberdayakan.

I think it’s a liberator for folks that always wanted to make music that didn’t know a skill, couldn’t sing, couldn’t play an instrument – but now their ideas can materialize,” jelasnya, melihat potensi AI untuk membuka pintu kreativitas bagi banyak orang.

TikTok: Ancaman Nyata bagi Industri Musik

Namun, will.i.am justru melihat ancaman yang lebih besar bagi industri musik datang dari platform media sosial seperti TikTok. “But then at the same time, has TikTok ruined music as far as our attention span, and in the quality of music chasing its algorithms… that’s the one,” kritiknya. Ia khawatir TikTok telah merusak rentang perhatian pendengar dan mendorong musisi untuk menciptakan lagu yang hanya mengejar algoritma, mengorbankan kualitas artistik.

Kolaborasi will.i.am dengan LG dan pandangannya yang tajam tentang teknologi dan musik menunjukkan posisinya yang unik di persimpangan kedua dunia tersebut, terus mendorong batas-batas inovasi dan kreativitas.

Mureks