Otomasi Kecerdasan Buatan (AI) diproyeksikan akan menghilangkan 92 juta pekerjaan lama secara global hingga tahun 2030. Namun, di sisi lain, sektor teknologi, khususnya bidang pengembangan AI dan data science, justru akan menjadi pendorong utama penciptaan 78 juta pekerjaan baru.
Memasuki tahun 2026, ketidakpastian ekonomi global dan adopsi AI yang masif telah mengubah lanskap pekerjaan secara fundamental. Pekerja profesional dituntut untuk menyesuaikan strategi karier agar tetap kompetitif dan relevan di tengah disrupsi teknologi.
Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Data dari Future of Jobs Report 2025 World Economic Forum (WEF) memberikan peringatan keras. Laporan tersebut memprediksi hilangnya jutaan pekerjaan akibat otomatisasi industri, sekaligus menyoroti munculnya peluang baru. Mureks mencatat bahwa kemampuan adaptasi menjadi mata uang paling berharga bagi tenaga kerja di seluruh dunia untuk bertahan dalam persaingan pasar kerja.
Sektor Teknologi: Tulang Punggung Pasar Kerja Baru
Pergeseran besar ini menandai dominasi teknologi di masa depan pekerjaan. WEF secara spesifik memetakan peran-peran dengan pertumbuhan tercepat, menempatkan bidang teknologi sebagai tumpuan utama pasar kerja global dalam beberapa tahun ke depan.
Profesi inti teknologi seperti pengembangan perangkat lunak, data science, hingga keamanan siber diproyeksikan tumbuh pesat. Selain itu, pesatnya digitalisasi turut mendorong sektor digital commerce dan layanan berbasis teknologi terus berkembang. Perusahaan kini aktif mencari talenta yang mampu mengelola dan menganalisis volume data yang masif.
Keterampilan Manusia Tetap Krusial dalam Strategi Karier 2026
Meskipun teknologi mendominasi, faktor tersebut bukan satu-satunya penentu arah karier di masa depan. Corporate Trainer dan Career Coach Aditiyo Indrasanto menekankan pentingnya peran hubungan manusia.
“Kita sering melupakan hal ini. Di negara dengan budaya kolektif seperti Indonesia, interaksi manusia masih memegang peran krusial,” ujar Aditiyo.
Teknologi memang mengoptimalkan proses kerja, namun belum bisa sepenuhnya menggantikan peran relasi, kepercayaan, dan empati dalam ekosistem profesional. Profesi berbasis interaksi langsung, seperti marketing, konsultan bisnis, pengembangan usaha, dan layanan kesehatan mental, masih memiliki ruang tumbuh yang signifikan.
Kunci bertahan dalam persaingan pasar kerja adalah fleksibilitas, membangun relasi yang kuat, dan mengadopsi strategi karier yang berbasis visi jangka panjang.
Referensi penulisan: gadget.viva.co.id






