Venezuela membantah keras adanya bentrokan di Istana Kepresidenan Miraflores menyusul rentetan suara tembakan yang terdengar di kompleks tersebut pada Senin (5/1) malam. Insiden ini terjadi hanya beberapa jam setelah Wakil Presiden Delcy Rodriguez dilantik sebagai presiden baru, menggantikan Nicolas Maduro yang sebelumnya ditangkap oleh Amerika Serikat.
Kementerian Komunikasi dan Informasi Venezuela segera mengeluarkan pernyataan resmi. Mereka menyebut bahwa polisi menembak jatuh sebuah drone yang terbang tanpa izin di area tersebut. “Tidak terjadi konfrontasi dan seluruh negeri dalam keadaan tenang,” demikian pernyataan kementerian, seperti dikutip CNN. Namun, pihak kementerian tidak merinci asal-usul pesawat nirawak tersebut.
Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id
Klarifikasi Resmi dan Kesaksian Warga
Sebelumnya, seorang warga melaporkan mendengar suara tembakan di Jalan Urdaneta, area yang berdekatan dengan istana kepresidenan, tak lama setelah pelantikan Rodriguez. Video yang telah diverifikasi oleh CNN juga menunjukkan adanya tembakan anti-pesawat di wilayah udara Caracas, menambah ketegangan di ibu kota.
Dalam video terpisah, suara tembakan terdengar di tengah isu kebingungan di antara berbagai kelompok keamanan dekat istana negara. Salah satu kelompok keamanan dilaporkan meminta dukungan dan bantuan, mengindikasikan dugaan konfrontasi di sekitar istana. Namun, menurut Mureks, situasi kemudian diklarifikasi sebagai kesalahpahaman setelah tembakan dilepaskan, dengan anggota kepolisian Miraflores dan keamanan Istana menembak drone.
Reaksi Internasional dan Konteks Penangkapan Maduro
Amerika Serikat, melalui Gedung Putih, menegaskan bahwa mereka “tak terlibat” dalam insiden penembakan malam itu. Washington hanya menyatakan bahwa mereka memantau secara ketat situasi yang berkembang di Venezuela.
Insiden penembakan di dekat istana ini berlangsung hanya dua hari setelah AS melancarkan Operation Absolute Resolve, membombardir Ibu Kota Caracas dan menculik Nicolas Maduro beserta istrinya pada 3 Desember. Keduanya langsung diterbangkan dari Venezuela ke Amerika Serikat. Tindakan AS tersebut menuai kecaman luas dari komunitas internasional, yang menilai operasi itu melanggar hukum internasional dan kedaulatan negara lain.






