Seorang perempuan berusia 37 tahun tewas ditembak agen Immigration and Customs Enforcement (ICE) di Minneapolis, Amerika Serikat, pada Rabu (7/1/2026) waktu setempat. Insiden tragis ini segera memicu kontroversi nasional, menyoroti perbedaan tajam antara keterangan pemerintah federal dan otoritas lokal mengenai kronologi kejadian.
Pemerintahan Presiden Donald Trump melalui pernyataan resminya mengklaim perempuan bernama Renee Nicole Good itu merupakan perusuh yang melakukan kekerasan. Menurut pihak federal, Good mencoba menabrak petugas ICE menggunakan kendaraannya, sehingga seorang agen melepaskan tembakan defensif karena merasa nyawanya terancam.
Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem bahkan menyebut tindakan Good sebagai bentuk terorisme domestik. Ia menegaskan operasi ICE di Minneapolis tidak akan dihentikan. Mureks mencatat bahwa kasus ini masih dalam penyelidikan FBI.
Presiden Trump turut angkat bicara melalui platform Truth Social. Ia mengklaim seorang agen ICE ‘ditabrak dengan kejam’ oleh kendaraan dalam insiden tersebut. ‘Sulit dipercaya dia masih hidup, tetapi sekarang sedang dalam masa pemulihan di rumah sakit,’ tulis Trump. Ia juga menuding gerakan Kiri Radikal sebagai pihak yang mengancam, menyerang, dan menargetkan aparat penegak hukum serta agen ICE setiap hari.
Noem menambahkan, agen yang terluka dalam insiden tersebut sebelumnya pernah tertabrak kendaraan saat bertugas pada Juni 2025.
Namun, klaim tersebut dibantah keras oleh pimpinan kota Minneapolis, pemerintah negara bagian Minnesota, serta sejumlah tokoh Partai Demokrat.
Wali Kota Minneapolis Jacob Frey menilai tindakan agen ICE sebagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan. ‘Ini adalah seorang agen yang secara sembrono menggunakan kewenangan hingga menyebabkan seseorang meninggal dunia,’ ujar Frey seperti dilansir dari BBC. Ia bahkan secara terbuka meminta ICE untuk meninggalkan wilayahnya dengan pernyataan tegas, ‘Pergi dari kota kami!’
Dewan Kota Minneapolis menyatakan Renee Nicole Good bukan perusuh, melainkan warga yang saat itu sedang peduli dan membantu para tetangganya.
Gubernur Minnesota Tim Walz juga mengecam narasi pemerintah federal. Menanggapi unggahan Departemen Keamanan Dalam Negeri di media sosial, Walz menulis, ‘Jangan percaya mesin propaganda ini.’ Ia menegaskan negara bagian akan memastikan adanya penyelidikan yang penuh, adil, dan cepat demi akuntabilitas serta keadilan.
Mantan Wakil Presiden Kamala Harris menyebut versi kejadian dari pemerintahan Trump sebagai bentuk gaslighting, sementara Pemimpin Minoritas DPR Hakeem Jeffries menyampaikan keprihatinan mendalam atas tewasnya warga sipil dalam operasi penegakan imigrasi.
Insiden penembakan terjadi sekitar pukul 10.25 waktu setempat di sebuah kawasan permukiman. Sejumlah video yang direkam warga dan beredar luas di media sosial memperlihatkan sebuah SUV berwarna marun berhenti di tengah jalan, sementara sekelompok orang yang diduga tengah berunjuk rasa berdiri di sepanjang trotoar. Beberapa kendaraan penegak hukum terlihat berada di sekitar lokasi.
Dalam rekaman tersebut, tampak beberapa agen imigrasi mendekati SUV dan memerintahkan pengemudi untuk keluar dari kendaraan. Salah satu agen terlihat menarik gagang pintu sisi pengemudi, sementara agen lain berdiri di dekat bagian depan mobil. Ketika SUV tersebut mencoba melaju, terdengar tiga kali letusan senjata api. Kendaraan kemudian oleng dan menabrak sebuah mobil putih yang terparkir tidak jauh dari lokasi kejadian.
Penembakan ini terjadi di tengah operasi pengetatan imigrasi besar-besaran yang tengah digencarkan pemerintahan Trump di Minneapolis. Kehadiran ICE di Minneapolis sendiri berkaitan dengan pengerahan tambahan sekitar 2.000 agen federal dalam beberapa pekan terakhir. Pengerahan ini disebut sebagai respons atas dugaan penipuan bantuan sosial di Minnesota dan menjadi salah satu konsentrasi terbesar personel Departemen Keamanan Dalam Negeri di satu kota dalam beberapa tahun terakhir.
Kemarahan publik di Minneapolis segera memicu aksi protes di berbagai titik kota. Warga turun ke jalan mengecam penembakan tersebut dan menuntut ICE menghentikan operasinya. Di dekat lokasi kejadian, warga mendirikan tempat doa darurat dengan bunga dan lilin, sambil meneriakkan slogan serta menyampaikan orasi.
Media lokal melaporkan sekitar 50 pengunjuk rasa sempat memblokade pintu masuk gedung pengadilan federal, meneriakkan nama Good, sebelum akhirnya membubarkan diri. Aksi solidaritas juga direncanakan berlangsung di sejumlah kota lain di Amerika Serikat, termasuk New Orleans, Miami, dan New York City, menandai meluasnya penolakan terhadap kebijakan penegakan imigrasi pemerintahan Trump.






