Tren

Tiongkok Larang Ekspor Produk Dwiguna Militer ke Jepang, Respons Keras Pernyataan Taiwan

BEIJING – Kementerian Perdagangan Tiongkok pada Selasa (6/1/2026) resmi mengeluarkan larangan ekspor produk-produk dwiguna ke Jepang. Kebijakan ini merupakan respons terbaru Beijing terhadap pernyataan Perdana Menteri Jepang baru-baru ini mengenai Taiwan yang dianggap provokatif.

Produk dwiguna yang dimaksud mencakup barang, perangkat lunak, atau teknologi yang memiliki aplikasi sipil dan militer, termasuk unsur tanah jarang tertentu yang krusial untuk pembuatan drone dan chip. Larangan ekspor ini ditujukan kepada pengguna militer atau tujuan apa pun yang berkontribusi pada kekuatan militer Jepang, dengan ancaman pertanggungjawaban hukum bagi organisasi atau individu yang melanggar.

Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id

Konteks Ketegangan Tiongkok-Jepang

Hubungan antara Beijing dan Tokyo memburuk sejak Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyatakan bahwa “serangan Tiongkok terhadap pulau Taiwan yang diperintah secara demokratis dapat dianggap sebagai ancaman eksistensial bagi Jepang”. Beijing dengan tegas menyebut pernyataan tersebut sebagai “provokatif” dan menegaskan kembali klaimnya atas Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya.

Kementerian Luar Negeri Tiongkok kemudian mempertanyakan motif Jepang terkait Taiwan, dengan mengatakan bahwa “provokasi” tersebut bisa jadi dalih untuk membangun kekuatan militer dan misi luar negerinya. Pada akhir Desember, kabinet Jepang menyetujui paket pengeluaran rekor untuk tahun fiskal yang dimulai pada bulan April, termasuk peningkatan 3,8 persen dalam anggaran militer tahunan menjadi 9 triliun yen (57,7 miliar dolar AS).

Kantor berita pemerintah Tiongkok, Xinhua, dalam komentarnya pada Desember, menyebut bahwa beberapa tahun terakhir ini “mengkhawatirkan” karena Jepang telah “secara drastis” menyesuaikan kebijakan keamanannya, meningkatkan pengeluaran pertahanannya dari tahun ke tahun, melonggarkan pembatasan ekspor senjata, berupaya mengembangkan senjata ofensif, dan berencana untuk meninggalkan tiga prinsip non-nuklirnya.

Sejarah Pembatasan Ekspor dan Data Terbaru

Tiongkok pernah membatasi ekspor logam tanah jarang ke Jepang selama perselisihan diplomatik sebelumnya lebih dari satu dekade lalu. Mureks mencatat bahwa data bea cukai Tiongkok hingga saat ini belum menunjukkan penurunan ekspor logam tanah jarang ke Jepang, meskipun data tersebut dirilis dengan sedikit keterlambatan.

Pada November, bulan terakhir yang datanya tersedia, ekspor justru tumbuh 35 persen menjadi 305 metrik ton, angka tertinggi tahun lalu.

Mureks