Obsidian Entertainment kembali menggebrak jagat gim dengan merilis The Outer Worlds 2, sebuah epik fiksi ilmiah yang disebut-sebut sebagai jawaban atas dahaga penggemar gim RPG, terutama mereka yang merindukan nuansa Fallout: New Vegas. Setelah penantian lebih dari satu dekade, gim ini berhasil memenuhi ekspektasi tinggi yang telah ditetapkan oleh mahakarya Obsidian pada tahun 2010.
Berbeda dengan pendahulunya, The Outer Worlds 2 berlatar di galaksi yang berbeda, memungkinkan pemain untuk langsung terjun tanpa perlu memahami cerita gim pertama. Pemain akan berperan sebagai agen Earth Directorate dengan misi utama menghentikan retakan mematikan yang muncul di seluruh galaksi. Penyelidikan dimulai di koloni Arcadia, tempat lahirnya perjalanan lebih cepat dari cahaya, untuk mengungkap bagaimana penemuan ini memicu bencana.
Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id
Ironi Kapitalisme dalam Balutan Fiksi Ilmiah
Di tengah konflik sengit antara faksi-faksi besar yang berebut eksploitasi retakan, gim ini secara cerdas menyisipkan kritik terhadap distopia hiper-kapitalis. Ironi ini semakin terasa mengingat Obsidian Entertainment kini berada di bawah naungan Microsoft. Mureks mencatat bahwa ironi ini tidak luput dari perhatian para pengembang, yang secara gamblang menyisipkannya dalam cerita. Contohnya, fitur kelemahan ‘konsumerisme’ yang dapat dibuka dengan membeli Premium Edition, atau logo Xbox yang bertransformasi menjadi maskot Spacer’s Choice, simbol praktik kerja eksploitatif, di bagian kredit.
Penulisan Obsidian tetap tajam dan jenaka, dengan beberapa dialog yang mampu memancing tawa, meskipun plot utama gim ini sangat serius dan berisiko tinggi.
Pilihan yang Mengguncang dan Konsekuensi yang Nyata
Salah satu pilar utama The Outer Worlds 2 adalah pentingnya setiap pilihan pemain. Hal ini dimulai dari pembuatan karakter dasar yang dapat mengubah seluruh pengalaman bermain. Sebagai contoh, seorang pemain secara ‘bodoh’ memilih sifat negatif terburuk, ‘Dumb’, yang mengunci lima keterampilan gim. Tujuannya adalah menciptakan profesor yang pandai berbicara namun agak bodoh, yang mengandalkan senjata jarak dekat. Namun, beberapa jam kemudian, disadari bahwa keputusan ini sangat fatal, terutama karena keterampilan seperti Kepemimpinan dan Pidato saling terkait, mengunci akses ke perk penting.
Sistem kelemahan (flaws) juga telah dirombak total, menawarkan efek positif dan negatif yang lebih bervariasi. Kelemahan ini muncul setelah pemain melakukan tindakan tertentu berulang kali. Meskipun ada kelemahan yang sangat kuat dan bahkan diperingatkan untuk tidak diambil pada permainan pertama, pengalaman dengan sifat ‘Dumb’ menunjukkan bahwa peringatan tersebut tidak selalu ada di awal.
Gim ini secara konsisten mengingatkan pemain bahwa mereka tidak bisa melakukan segalanya. Opsi dialog yang terkunci atau objek lingkungan yang tidak bisa diperbaiki akan sering ditemui, mendorong pemain untuk menerima keterbatasan atau mencari jalur alternatif. Hal ini menjadi insentif kuat untuk menciptakan karakter baru setelah cerita utama selesai, demi menjelajahi kemungkinan yang berbeda.
Dinamika Karakter dan Dunia yang Hidup
Interaksi dengan pemain lain menunjukkan betapa beragamnya pengalaman bermain berkat misi yang dirancang secara ahli untuk mengakomodasi hampir semua jenis karakter. Tidak ada dua pemain yang menempuh jalur yang sama untuk menyelesaikan misi utama. Beberapa misi sampingan bahkan terjalin dengan misi utama, membuka jalur alternatif yang tidak secara eksplisit ditunjukkan dalam log misi.
Setiap misi utama di planet berakhir dengan peristiwa besar yang memaksa pemain membuat keputusan dengan dampak jangka panjang. Pemain dapat berpihak pada Auntie’s Choice, faksi hiper-kapitalis yang fokus pada keuntungan, atau Order of the Ascendant, faksi berbasis sains yang memprediksi peristiwa dunia melalui matematika. Keduanya tidak ada yang secara inheren lebih baik, memaksa pemain memilih ‘kejahatan yang lebih kecil’. Konsekuensi keputusan ini akan terasa di seluruh dunia, mulai dari penduduk kota yang disabotase hingga rekan-rekan yang meninggalkan pemain karena tindakan keji.
Rekan-rekan seperti Niles, yang seperti adik laki-laki yang mencari persetujuan, dan Marisol, seorang pembunuh berdarah dingin yang memahami kekejaman dunia, sangat menawan. Pemain akan merasa terdorong untuk menyelesaikan kisah pribadi mereka. Meskipun hanya dua rekan yang bisa dibawa, pemain dapat bertukar di kapal. Beberapa rekan mungkin tidak ditemui atau bahkan terbunuh secara tidak sengaja melalui tindakan pemain dalam misi utama. Karakter seperti Aza, kultus kekerasan, dan Tristan, arbiter Protectorate, menawarkan pandangan yang sangat berbeda tentang galaksi, menambah kedalaman pengalaman RPG.
Pertarungan yang Lebih Baik, Namun Masih Kurang Mendalam
Planet Eden dan Dorado menampilkan yang terbaik dari The Outer Worlds 2, penuh dengan misi yang mengeksplorasi penduduk dan cara mereka menghadapi faksi-faksi yang bertikai. Namun, sepertiga akhir gim, khususnya di Cloister dengan hamparan tanah es yang luas, terasa lebih tandus dibandingkan pendahulunya. Misi di sana juga memiliki lebih sedikit jalur alternatif, seringkali mengarah pada urutan pertarungan yang panjang dan membosankan.
Meskipun demikian, sistem tembak-menembak telah ditingkatkan secara drastis, membuat The Outer Worlds 2 terasa lebih seperti penembak modern daripada RPG tradisional dengan mekanika pertarungan yang lemah. Namun, pemain masih akan menghadapi gelombang musuh yang ‘bodoh’ dan ‘penyerap peluru’. Tidak ada kedalaman strategis yang nyata dalam pertarungan; seringkali lebih mudah menembak musuh hingga mati daripada mencari opsi alternatif. Sistem crafting yang lengkap juga tersedia, tetapi pada tingkat kesulitan normal, pertarungan bisa sangat sepele sehingga pemain mungkin tidak perlu berinteraksi dengannya.
Performa Teknis yang Memuaskan
Dari segi performa, The Outer Worlds 2 menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan banyak gim Unreal Engine 5 lainnya. Gim ini berjalan di atas 100fps pada PC dengan spesifikasi tinggi (RTX 5090, AMD 9800X3D) menggunakan pengaturan tertinggi. Namun, pengaturan hardware ray tracing sebaiknya dihindari karena hampir tidak meningkatkan visual namun mengurangi frame rate hingga separuhnya. Gim ini juga mendukung rasio aspek ultrawide dan HDR, fitur dasar yang sering diabaikan oleh gim profil tinggi lainnya.
Secara keseluruhan, The Outer Worlds 2 berhasil membuat pilihan pemain terasa sangat penting, dengan konsekuensi yang mungkin baru disadari pada permainan kedua. Sayangnya, sistem pertarungan masih belum mampu menyamai standar tinggi yang ditetapkan oleh aspek gim lainnya. Pertarungan di paruh akhir terasa membosankan, seperti dipaksa makan sayuran sebelum menikmati hidangan utama. Meskipun peningkatan dalam tembak-menembak disambut baik, jelas bahwa loop pertarungan era Fallout 3 perlu dikembangkan lebih lanjut agar epik fiksi ilmiah Obsidian ini dapat mencapai level berikutnya.






