Teknologi

Terobosan Energi Fusi: Ilmuwan China Sukses Dorong ‘Matahari Buatan’ EAST Lampaui Batas Fisika Lama

Dalam sebuah pencapaian ilmiah yang berpotensi merevolusi masa depan energi global, para peneliti di Tiongkok berhasil mendorong reaktor fusi nuklir mereka, EAST (Experimental Advanced Superconducting Tokamak), melampaui batas densitas plasma yang selama ini dianggap sebagai penghalang utama. Terobosan ini, yang dijuluki “matahari buatan”, membuka jalan menuju realisasi energi bersih dan tak terbatas.

Pencapaian luar biasa ini telah dipublikasikan dalam jurnal bergengsi Science Advances. Ini bukan sekadar rekor teknis, melainkan sebuah lompatan konseptual yang dapat mempercepat terwujudnya mimpi umat manusia: energi bersih, aman, dan tak terbatas dari reaksi fusi, proses yang sama dengan yang menggerakkan matahari.

Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!

Mengenal EAST: Reaktor Fusi “Matahari Buatan” China

Terletak di Hefei, Provinsi Anhui, EAST adalah salah satu reaktor fusi eksperimental paling canggih di dunia. Dijuluki “matahari buatan” karena fungsinya meniru proses fusi nuklir di inti matahari. Reaktor ini menggabungkan inti atom ringan, seperti hidrogen, pada suhu ekstrem untuk menghasilkan energi besar tanpa limbah radioaktif jangka panjang.

EAST menggunakan magnet superkonduktor untuk mengurung plasma, yaitu gas terionisasi bersuhu lebih dari 100 juta derajat Celsius, dalam bentuk donat (toroidal). Pada suhu ekstrem ini, inti atom bergerak cukup cepat untuk mengatasi gaya tolak-menolak elektromagnetik dan menyatu, melepaskan energi. Semakin padat (dense) plasma tersebut, semakin banyak reaksi fusi yang terjadi, yang berarti efisiensi energi meningkat.

Batas Greenwald: Hambatan Fisika yang Terpecahkan

Selama puluhan tahun, eksperimen fusi di seluruh dunia terbentur pada satu batas fisika krusial: Batas Greenwald. Batas ini, yang diusulkan oleh Martin Greenwald pada tahun 1980-an, menetapkan hubungan maksimum antara densitas plasma dan daya input dalam tokamak. Menurut Mureks, batas ini telah lama dianggap sebagai hukum alam yang tak bisa dilanggar dalam pengembangan energi fusi.

Melebihi batas ini akan membuat plasma menjadi tidak stabil dan memicu “disrupsi”. Disrupsi adalah runtuhnya medan magnet pengurung, yang menyebabkan plasma menyentuh dinding reaktor. Akibatnya sangat fatal, meliputi:

  • Kerusakan serius pada komponen internal reaktor.
  • Kontaminasi plasma oleh partikel logam dari dinding.
  • Penghentian paksa reaksi fusi.

Hipotesis Revolusioner: Bukan Densitas, Tapi Kontaminasi Logam

Tim dari Institute of Plasma Physics, Chinese Academy of Sciences (ASIPP), mengajukan hipotesis revolusioner. Mereka berpendapat bahwa batas densitas bukanlah batas fundamental plasma itu sendiri, melainkan akibat dari kontaminasi yang berasal dari dinding reaktor. Penemuan ini mengubah paradigma dalam penelitian fusi dan membuka peluang baru untuk mencapai densitas plasma yang lebih tinggi secara stabil.

Mureks