Otoritas Iran melontarkan kecaman keras terhadap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyusul ancaman intervensi terkait unjuk rasa yang melanda negara tersebut. Trump menyatakan AS “siap bertindak” untuk “datang menyelamatkan” demonstran Iran yang memprotes kesulitan ekonomi. Teheran menilai ancaman tersebut sebagai bentuk campur tangan asing.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Sabtu (3/1/2026), mengecam pernyataan Trump sebagai “ceroboh dan berbahaya”. “Pesan Trump hari ini, kemungkinan dipengaruhi oleh pihak-pihak yang takut akan diplomasi atau secara keliru meyakini bahwa diplomasi tidak diperlukan, adalah ceroboh dan berbahaya,” ujar Araghchi melalui media sosial X pada Jumat (2/1) waktu setempat.
Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.
Araghchi menegaskan bahwa sebagian besar unjuk rasa di Teheran dan kota-kota lain berlangsung damai. Ia juga menyinggung pengerahan pasukan Garda Nasional AS oleh Trump untuk menindak unjuk rasa di kota-kota besar AS beberapa waktu lalu, menyiratkan standar ganda.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menambahkan bahwa rakyat Iran tidak akan membiarkan campur tangan asing dan akan menyelesaikan masalah mereka “melalui dialog dan keterlibatan”. Baghaei juga menyoroti catatan panjang tindakan politisi Amerika yang dilakukan atas nama ‘menyelamatkan rakyat Iran’. “Cukup dengan meninjau catatan panjang tindakan para politisi Amerika yang dilakukan atas nama ‘menyelamatkan rakyat Iran’ untuk memahami kedalaman apa yang disebut sebagai ‘empati’ Amerika terhadap bangsa Iran,” ucapnya. Menurut Mureks, Baghaei secara spesifik merujuk pada kudeta tahun 1953 terhadap mantan Perdana Menteri Mohammad Mossadegh, penembakan jatuh pesawat sipil Iran pada tahun 1988, dukungan AS untuk mantan diktator Saddam Hussein selama perang Iran-Irak, dan dukungan untuk Israel selama serangan tahun lalu terhadap Iran.
“Dan hari ini, sekali lagi, ada ancaman serangan terhadap Iran dengan dalih kepedulian terhadap rakyat Iran, yang secara terang-terangan melanggar prinsip paling mendasar dari hukum internasional,” tegas Baghaei.
Ancaman Trump disampaikan pada Jumat (2/1) waktu setempat. Ia menyatakan AS akan “datang menyelamatkan” demonstran Iran yang turun ke jalan akibat memburuknya situasi ekonomi dan depresiasi dramatis mata uang Rial Iran. “Jika Iran menembak dan membunuh demonstran, yang beraksi damai, secara brutal, yang merupakan kebiasaan mereka, Amerika Serikat akan datang menyelamatkan mereka. Kami siap siaga dan siap bertindak,” tegas Trump.
Pernyataan Trump muncul setelah laporan kantor berita semi-resmi Fars dan kelompok hak asasi manusia Hengaw menyebut sejumlah orang tewas dalam bentrokan antara demonstran dan pasukan keamanan Iran. Sedikitnya dua orang tewas di Lordegan, tiga di Azna, dan satu di Kouhdasht. Laporan tersebut tidak merinci apakah korban adalah demonstran atau pasukan keamanan. Video di media sosial pada Kamis lalu juga menunjukkan mobil-mobil dibakar saat kericuhan.
Unjuk rasa dimulai pekan lalu di Grand Bazaar Teheran, menyebar ke berbagai wilayah, dengan pemilik toko dan pedagang lokal meluapkan kemarahan atas kondisi ekonomi yang tidak stabil. Di beberapa area, unjuk rasa berubah menjadi tindak kekerasan. Otoritas Teheran menuduh “kekuatan eksternal” menghasut demonstran damai untuk melakukan kekerasan.
Kecaman terhadap ancaman Trump juga datang dari Ali Shamkhani, penasihat senior pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. “Setiap campur tangan yang menyerang keamanan Iran dengan dalih apa pun akan dihadapkan pada respons-respons. Keamanan nasional Iran adalah garis merah (red line), bukan bahan untuk cuitan adventurisme,” tegas Shamkhani.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ari Larijani, memperingatkan bahwa campur tangan AS di Iran akan memicu destabilisasi kawasan Timur Tengah dan merugikan kepentingan AS. “Trump harus mengetahui bahwa campur tangan Amerika dalam masalah internal ini akan sama saja mengganggu stabilitas seluruh kawasan dan merugikan kepentingan Amerika,” kata Larijani.






