Biro Keamanan Nasional Taiwan mengungkapkan bahwa infrastruktur penting negara itu menghadapi lebih dari 2,6 juta serangan siber setiap hari dari Tiongkok sepanjang tahun 2025. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dan disebut sebagai bagian dari strategi “perang hibrida” yang dilancarkan Beijing terhadap pulau tersebut.
Data terbaru yang dirilis oleh Biro Keamanan Nasional Taiwan pada 5 Januari 2026 ini mencatat total 2,63 juta serangan siber setiap hari. Jumlah tersebut meningkat 6% dibandingkan tahun 2024. Sejak Taiwan mulai melacak statistik ini pada tahun 2023, jumlah serangan siber telah melonjak hingga 113%.
Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Serangan-serangan ini menargetkan berbagai sektor vital, termasuk rumah sakit, bank, lembaga pemerintah, dan organisasi infrastruktur kritis lainnya. Peningkatan intensitas serangan ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keamanan nasional Taiwan.
Laporan tersebut menyatakan, “Tren semacam itu menunjukkan upaya yang disengaja oleh Tiongkok untuk mengkompromikan infrastruktur penting Taiwan secara komprehensif dan untuk mengganggu atau melumpuhkan fungsi pemerintah dan sosial Taiwan.”
Biro Keamanan Nasional Taiwan berpendapat bahwa serangan siber ini merupakan bagian integral dari “perang hibrida” yang dilancarkan Tiongkok. Strategi ini semakin gencar seiring dengan meningkatnya retorika Tiongkok mengenai “merebut kembali kedaulatan” atas pulau yang diperintah secara demokratis tersebut.
Dalam banyak kasus, serangan siber ini bertepatan dengan peristiwa militer dan politik penting. Sebagai contoh, Tiongkok meluncurkan 40 “patroli kesiapan tempur bersama” yang melibatkan pesawat dan kapal militer di dekat perairan Taiwan. Dari jumlah tersebut, 23 kali diikuti oleh serangan siber.
Serangan juga terjadi saat Presiden Lai Ching-te menyampaikan pidato menandai tahun pertamanya menjabat, serta ketika Wakil Presiden Hsiao Bi-khim berbicara dalam pertemuan dengan anggota parlemen di Parlemen Eropa pada November. Laporan itu menambahkan, “Langkah-langkah Tiongkok selaras dengan kebutuhan strategisnya untuk menggunakan ancaman hibrida terhadap Taiwan baik selama masa damai maupun masa perang.”
Mureks mencatat bahwa Tiongkok tidak memberikan tanggapan resmi terhadap laporan atau klaim tersebut. Secara umum, Tiongkok selalu menyangkal keterlibatan dalam serangan siber apa pun dan seringkali menuduh Amerika Serikat sebagai “pengganggu siber” terbesar di dunia.
Meskipun demikian, para peneliti keamanan siber telah mengidentifikasi banyak kelompok peretas berbahasa Mandarin, seperti Volt Typhoon, Brass Typhoon, atau Salt Typhoon, yang terlibat dalam aktivitas yang sangat selaras dengan kepentingan nasional Tiongkok. Aktivitas tersebut meliputi spionase siber dan pencurian data dari target-target strategis.






