Otomotif

Survei LPEM FEB UI: Ekonomi dan Harga Mobil Jadi Alasan Utama Konsumen Tunda Pembelian

Pasar otomotif Indonesia masih menghadapi tantangan struktural yang signifikan, dengan kondisi ekonomi dan harga kendaraan menjadi faktor dominan yang menahan konsumen untuk melakukan pembelian. Temuan ini terungkap dari survei terbaru yang dilakukan oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) pada 9 Januari 2026.

Dari total 4.565 responden yang dinilai memiliki kemampuan ekonomi untuk membeli mobil, sebanyak 3.054 responden atau sekitar 67 persen menyatakan tidak berencana membeli mobil dalam lima tahun mendatang. Catatan Mureks menunjukkan, angka ini mengindikasikan adanya stagnasi daya beli di sektor otomotif.

Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id

Kondisi Keuangan dan Harga Jadi Penentu

Survei LPEM FEB UI merinci beberapa alasan utama di balik keputusan konsumen menunda pembelian mobil baru. Kondisi keuangan yang tidak memungkinkan menjadi alasan paling dominan, disebutkan oleh 26 persen responden. Sementara itu, 19 persen responden lainnya menilai harga mobil yang ditawarkan saat ini terlalu mahal.

Selain faktor harga dan kondisi finansial pribadi, ketidakpastian ekonomi ke depan juga turut memengaruhi keputusan konsumen. Sekitar 13 persen responden memilih menunda pembelian karena menunggu kondisi ekonomi yang lebih stabil. Sebagian konsumen bahkan mulai beralih ke alternatif transportasi lain, seperti transportasi umum atau layanan daring, sebagai pengganti mobil pribadi.

Peneliti Senior LPEM FEB UI, Riyanto, menegaskan bahwa “Stagnasi pasar otomotif nasional berakar pada satu persoalan utama.” Hal ini menggarisbawahi kesenjangan yang masih lebar antara harga kendaraan di pasar dan kemampuan finansial rumah tangga di Indonesia.

Preferensi Konsumen Beralih ke Mobil Bekas

Tekanan keterjangkauan harga juga tercermin dari meningkatnya preferensi konsumen terhadap mobil bekas. Dari 767 responden pemilik mobil bekas, 42 persen memilih kendaraan tersebut karena harganya yang lebih terjangkau. Selain itu, pajak yang lebih ringan (23 persen) dan depresiasi nilai yang lebih rendah (10 persen) turut menjadi pertimbangan penting.

Meski demikian, segmen mobil bekas tidak sepenuhnya menutup peluang bagi mobil baru. Survei mencatat, 224 responden atau sekitar 29 persen dari pemilik mobil bekas berencana membeli mobil baru dalam lima tahun ke depan. Mayoritas dari mereka bertujuan untuk mengganti kendaraan lama, sementara sisanya untuk menambah unit kendaraan.

Alasan perpindahan ke mobil baru bagi kelompok ini bukan lagi semata-mata harga, melainkan kualitas produk. Responden menyebut jaminan kondisi mesin dan bodi yang lebih baik (35 persen) serta teknologi dan fitur terbaru (23 persen) sebagai daya tarik utama. Namun, potensi ini masih sulit terealisasi tanpa adanya perbaikan signifikan pada daya beli masyarakat secara keseluruhan.

Mureks