Stunting Turun, Jika Cakupan Akseptor KB Aktif Capai 80 Persen

MUSI RAWAS- Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPP-KB) Kabupaten Musi Rawas (Mura), menyampaikan, angka balita stunting di Kabupaten Mura akan turun hingga 30 persen atau sebanyak sebanyak 564 balita dari jumlah balita stunting saat ini 1.878 balita, jika cakupan akseptor aktif mencapai 80 persen.
“Bila dilihat dari data capaian akseptor di Kabupaten Mura yang rata-rata sekitar 78,6 persen, maka apabila terjadi peningkatan sekitar 79,6 persen atau 80 persen maka angka stunting akan turun sebanyak 30 persen yaitu dari 1.878 balita stunting akan berkurang sebanyak 564 balita,” kata Kepala DPP-KB Mura, Supardiyono melalui Sekretaris, M Nizar.
Sebab lanjut Nizar, indikator akseptor KB merupakan salah satu, dari 90 indikator yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai faktor risiko terjadi balita stunting. Hal itu sesuai dengan Perpres Nomor 72 tahun 2021 yang menetapkan sebanyak 64 indikator dan Perban BKKBN dengan Nomor 12 tahun 2021 menetakpan sebanyak 26 indikator.
“Kabupaten Mura sendiri telah melaksanakan program konvergensi stunting sejak 2021 lalu, tetapi belum teridentifikasi faktor risiko sebanyak itu, melainkan sekitar 20 indikator dasar yang dikategori dalam kelompok pelayanan kesehatan, akses sanitasi, pendidikan, sosial dan kesejahteraan dan ketahanan pangan keluarga,” jelas Nizar.
Nizar menyampaikan, jika data tersebut dianalisis dengan pendekatan statistik dengan metode regresi. Metode ini, disamping akan mengetahui keeratan hubungan juga dapat mengestimasi perkiraan dari hubungan kedua indikator tersebut.
“Dari data yang ada terdapat lima Kecamatan yang tertinggi cakupan akseptor aktifnya tinggi yakni Selangit sekitar 84,5 persen, diikuti TPK 83,4 persen, Jayaloka 82,1 persen, Purwodadi 81,4 persen dan Muara Beliti 79,8 persen. Sedangkan tiga Kecamatan terendah yaitu Tuah Negeri sekitar 72,3 persen, Megang Sakti 73,5 persen dan Tugumulyo sekitar 76,3 persen.
“Diharapkan kepada masyarakat Kabupaten Mura, untuk sama-sama mengoptimalisasikan seluruh Pasangan Usia Subur (PUS), untuk mengikuti program KB sesuai dengan anjuran bidan atau dokter keluarga. Saya sarankan lebih baik menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang seperti susuk (implant), spiral (IUD) atau operasi MOW/MOV bila memungkinkan,” jelasnya.
Nizar juga berharap kepada stakeholder terkait untuk ikut dukungannya, dengan memanfaatkan setiap moment kegiatannya untuk melibatkandari DPP-KB untuk melaksanakan kegiatan pelayanan KB-Kes secara gratis.
“Silakan kontak kami, karena dengan cara inilah kita akan meningkatkan cakupan pelayanan akseptor KB secara maksimal dan optimal. Berencana Itu Keren, menuju Musi Rawas Maju, Mandiri dan Bermartabat dalam rangka wujudkan keluarga sehat dan tangguh,” pungkasnya. (kom)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.