Raksasa teknologi asal Korea Selatan, Samsung, semakin gencar memberi sinyal kuat terkait kehadiran kacamata pintar perdananya. Indikasi ini muncul melalui pembaruan sistem operasi One UI yang digulirkan secara bertahap untuk perangkat Galaxy.
Setelah sukses meluncurkan sejumlah perangkat populer sepanjang tahun 2025, termasuk Galaxy S25 Edge, Galaxy XR, dan ponsel layar lipat tiga pertama mereka, Galaxy Z TriFold, kini perhatian tertuju pada proyek kacamata pintar sebagai langkah strategis Samsung di tahun 2026. Mureks mencatat bahwa pengembangan perangkat wearable jenis ini menjadi fokus utama perusahaan.
Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id
Samsung diketahui telah merilis pembaruan fitur “Pemindaian Perangkat Terdekat” pada ponsel Galaxy. Fitur ini dirancang untuk menyederhanakan proses pemasangan berbagai perangkat, mulai dari smartwatch hingga cincin pintar, dengan konektivitas yang cepat dan stabil.
Dalam catatan pembaruan tersebut, Samsung secara eksplisit menyertakan dukungan untuk “Glasses Quick Pair”. Sesuai namanya, fitur ini memungkinkan kacamata pintar terhubung dengan perangkat seluler secara instan dan praktis. Langkah ini memperkuat spekulasi bahwa Samsung telah memasuki tahap awal persiapan peluncuran kacamata pintar pertamanya ke pasar global.
Selain itu, pembaruan “Pemindaian Perangkat Terdekat” juga membawa kompatibilitas dengan One UI 8.5, versi yang dijadwalkan meluncur dalam beberapa bulan ke depan. Saat ini, Samsung telah membuka program beta untuk One UI 8.5, dan pembaruan ini diperkirakan akan tersedia bagi perangkat yang didukung setelah peluncuran seri Galaxy S26.
Persaingan Ketat di Pasar Kacamata Pintar
Sebelumnya, kompetitor utama, Meta, telah membuat gebrakan dengan meluncurkan kacamata pintar Meta Ray-Ban Display. Perangkat ini dibanderol seharga USD 799 atau sekitar Rp 13,2 juta (dengan asumsi kurs Rp 16.532 per dolar AS).
Kacamata pintar produksi Meta ini ditujukan untuk konsumen dan dilengkapi dengan layar built-in. Berbeda dari versi sebelumnya, kacamata ini dapat dikendalikan melalui gerakan tangan berkat teknologi neural yang terintegrasi pada sebuah gelang.
Mark Zuckerberg, CEO Meta, menjelaskan bahwa Meta Ray-Ban Display adalah “kacamata dengan gaya klasik Ray-Ban, tetapi dilengkapi dengan layar beresolusi tinggi dan gelang neural.” Produk terbaru ini menjadi jembatan antara Ray-Ban Meta khusus audio yang sudah ada, dengan kacamata augmented reality Orion yang diperkenalkan pada acara Connect tahun lalu.
Dalam demonstrasi peluncuran, Zuckerberg sempat beberapa kali mengalami kegagalan saat mencoba menghubungi Chief Technology Meta, Andrew Bosworth. “Ini… ya, itu terjadi,” canda Zuckerberg.
Meta terus memperkuat kemitraannya dengan raksasa kacamata EssilorLuxottica sejak tahun 2019. Tahun lalu, kedua perusahaan memperbarui perjanjian jangka panjang untuk terus memproduksi produk-produk inovatif ini.
Selain kacamata Ray-Ban, Meta juga meluncurkan Oakley Meta Vanguard yang dirancang khusus untuk atlet dan olahraga intensitas tinggi seperti snowboarding dan mountain biking. Kacamata ini akan dijual mulai 21 Oktober dengan harga USD 499 atau sekitar Rp 7,7 juta, lebih mahal USD 100 dari model sebelumnya.
Pada kesempatan yang sama, Meta juga memperkenalkan Ray-Ban Meta (Gen 2), versi terbaru dari kacamata pintar orisinal perusahaan. Dengan harga USD 379 (naik dari USD 299), model baru ini memiliki daya tahan baterai dua kali lipat lebih lama, hingga delapan jam, dan kamera yang lebih kuat yang dapat merekam video 3K Ultra HD. Produk ini sudah mulai dijual sejak Rabu (17/9).
Terakhir, Zuckerberg mengumumkan Horizon TV, sebuah platform yang memungkinkan pengguna menonton acara televisi, acara olahraga, dan film menggunakan headset VR Quest milik perusahaan. Beberapa mitra yang akan berkontribusi dalam menyediakan konten termasuk Disney dan Universal Pictures.






