Internasional

Rusia Klaim Luncurkan Rudal Hipersonik Oreshnik ke Kyiv, Ukraina Laporkan Korban Jiwa

Rusia diklaim telah membombardir ibu kota Ukraina, Kyiv, dengan rudal hipersonik Oreshnik pada Kamis (8/1) malam. Serangan ini menandai pertama kalinya dalam lebih dari setahun Moskow mengerahkan salah satu senjata tercanggihnya tersebut, yang dilaporkan menyebabkan sedikitnya empat orang tewas dan 10 lainnya terluka.

Kementerian Pertahanan Rusia pada Jumat (9/1), mengonfirmasi serangan tersebut. “Angkatan Bersenjata Rusia melancarkan serangan besar-besaran dengan senjata jarak jauh berbasis darat dan laut berpresisi tinggi, termasuk sistem rudal darat jarak menengah bergerak Oreshnik,” demikian pernyataan kementerian itu, seperti dikutip CNN.

Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.

Meskipun Rusia tidak menyebutkan lokasi pasti hantaman rudal, pihak berwenang Ukraina melaporkan serangan rudal balistik terhadap fasilitas infrastruktur penting, termasuk di kota Lviv, Ukraina barat. Komando Udara “Barat” Angkatan Udara Angkatan Bersenjata Ukraina menyatakan rudal tersebut “bergerak dengan kecepatan sekitar 13.0000 kilometer per jam di sepanjang lintasan balistik.” Jenis rudal akan dipastikan setelah komponen-komponennya diperiksa.

Menurut Walikota Kyiv, Vitali Klitschko, selain korban jiwa dan luka, sejumlah infrastruktur penting di ibu kota juga mengalami kerusakan signifikan. Sementara itu, Wali Kota Lviv, Andriy Sadovyi, melalui Telegram, menyatakan “tidak ada informasi” mengenai korban jiwa di Lviv dan menegaskan bahwa “fasilitas sipil dan bangunan tempat tinggal di kota tidak terpengaruh.”

Angkatan Udara Ukraina mencatat bahwa pada Kamis malam, Rusia menembakkan total 36 rudal dan 242 drone. Rudal hipersonik Oreshnik dikenal memiliki kemampuan membawa beberapa hulu ledak dengan muatan bahan peledak konvensional maupun nuklir.

Sebelumnya, Rusia telah merilis video pada bulan lalu yang diklaim menunjukkan pengerahan sistem rudal Oreshnik di Belarus. Moskow pertama kali menggunakan senjata ini pada November 2024 saat menyerang kota Dnipro di Ukraina, meskipun saat itu senjata tersebut belum sepenuhnya dikembangkan.

Menanggapi serangan ini, Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha dalam unggahan di X, menyatakan, “Serangan semacam itu di dekat perbatasan Uni Eropa dan Nato merupakan ancaman serius bagi keamanan di benua Eropa dan ujian bagi komunitas transatlantik.” Ia menambahkan, “Kami menuntut tanggapan tegas terhadap tindakan sembrono Rusia.”

Rusia sendiri menyatakan serangan ini sebagai respons atas dugaan upaya Ukraina menyerang kediaman Presiden Vladimir Putin pada bulan lalu. Namun, klaim tersebut dibantah oleh pejabat Amerika Serikat, yang menyebut penilaian CIA tidak menemukan bukti bahwa Ukraina menargetkan rumah Putin.

Serangan Oreshnik ini terjadi di tengah upaya diplomatik yang dipimpin Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang di Ukraina. Catatan Mureks menunjukkan, insiden ini juga berlangsung beberapa jam setelah Rusia kembali memperingatkan bahwa pasukan Eropa yang berada di Ukraina akan dianggap sebagai target sah.

Dalam beberapa pekan terakhir, Rusia terus membombardir infrastruktur energi Ukraina, menyebabkan puluhan ribu orang kehilangan listrik dan pemanas di tengah musim dingin. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan tujuan serangan tersebut adalah “untuk menciptakan kekacauan dan tekanan psikologis terhadap penduduk.”

Mureks