Rusia menyambut baik pengangkatan Wakil Presiden Delcy Rodriguez sebagai presiden sementara Venezuela, menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat. Moskow menilai langkah ini sebagai upaya krusial untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di negara Amerika Latin tersebut.
Dilansir Reuters pada Rabu (7/1/2026), pemerintah Rusia secara tersirat menuding Venezuela menghadapi “ancaman neokolonial yang terang-terangan dan agresi bersenjata asing.” Meskipun tidak secara langsung menyebut Amerika Serikat, pernyataan tersebut jelas mengarah pada insiden penangkapan Maduro.
Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.
“Kami dengan tegas menegaskan bahwa Venezuela harus dijamin haknya untuk menentukan nasibnya sendiri tanpa campur tangan eksternal yang merusak,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia, seperti yang Mureks catat dari laporan tersebut.
Pemerintah Rusia juga menegaskan solidaritasnya kepada Venezuela, berjanji akan terus memberikan dukungan yang diperlukan. “Kami menyambut baik upaya yang dilakukan oleh otoritas resmi negara ini untuk melindungi kedaulatan negara dan kepentingan nasional. Kami menegaskan kembali solidaritas Rusia yang tak tergoyahkan dengan rakyat dan pemerintah Venezuela,” tambah pernyataan itu.
Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro terjadi pada Sabtu (3/1) dini hari, ketika pasukan khusus AS membawanya ke Amerika Serikat. Maduro sendiri telah berulang kali menyatakan tidak bersalah atas tuduhan narkotika dan bersikeras bahwa ia tetap merupakan pemimpin sah Venezuela.
Insiden ini menandai kedua kalinya sekutu dekat Rusia digulingkan dalam kurun waktu kurang dari setahun, setelah penggulingan Presiden Suriah Bashar al-Assad pada Desember 2024. Presiden Rusia Vladimir Putin, yang selama setahun terakhir berhati-hati untuk tidak mengkritik Donald Trump sejak kembali ke Gedung Putih, belum memberikan komentar resmi terkait penggulingan Maduro oleh Trump.






