Jakarta, Jumat (9/1/2026) – Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah pada perdagangan hari keenam tahun ini. Mata uang Garuda tercatat tergerus 0,07% ke level Rp16.805 per dolar Amerika Serikat (US$) di pasar spot.
Posisi penutupan ini menunjukkan sedikit perbaikan dibandingkan pembukaan perdagangan pagi hari yang berada di Rp16.827/US$. Namun, rupiah masih lebih lemah dari penutupan kemarin yang tercatat Rp16.793/US$.
Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!
Pelemahan rupiah ini terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS yang naik 0,13% dan menyentuh level 99.034. Angka ini merupakan posisi terkuat indeks dolar AS dalam empat minggu terakhir, memberikan tekanan signifikan terhadap mata uang global, khususnya di Asia.
Mata Uang Asia Tertekan Dolar AS
Penguatan dolar AS berdampak luas, menyebabkan hampir seluruh mata uang di Asia berada di zona merah pada perdagangan Jumat sore. Catatan Mureks menunjukkan, yen Jepang mengalami pelemahan paling dalam sebesar 0,45%.
- Won Korea Selatan melemah 0,41%
- Ringgit Malaysia tergerus 0,23%
- Rupee India turun 0,19%
- Dolar Singapura melemah 0,16%
- Peso Filipina tergerus 0,12%
- Dolar Taiwan turun 0,08%
- Rupiah melemah 0,07%
- Dolar Hong Kong turun 0,04%
Tidak hanya pasar Asia, penguatan dolar AS ini juga memengaruhi negara-negara dengan fundamental ekonomi yang kuat, termasuk negara-negara G-10, seperti yang terlihat pada grafik pergerakan nilai tukar terhadap dolar AS.
Tren pelemahan rupiah di awal tahun 2026 ini menambah daftar tantangan bagi perekonomian domestik, terutama setelah pemerintah mengakui adanya pelebaran defisit APBN akibat target ekonomi yang ambisius.






