Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Senin (5/1/2026). Pelemahan ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran geopolitik global, terutama setelah isu penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, yang memicu sentimen risk-off di pasar keuangan.
Mata uang Garuda berakhir di level Rp 16.740 per dollar AS, terkoreksi 15 poin atau 0,09 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Pergerakan mata uang di kawasan Asia juga menunjukkan variasi. Yuan China menguat 0,11 persen, sementara dollar Singapura melemah 0,09 persen, peso Filipina turun 0,41 persen, ringgit Malaysia melemah 0,38 persen, won Korea Selatan terkoreksi 0,17 persen, dan yen Jepang turun 0,13 persen. Di sisi lain, baht Thailand justru menguat 0,46 persen.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.
Untuk pasar negara maju, mayoritas mata uang juga terpantau melemah. Poundsterling Inggris turun 0,24 persen, diikuti euro yang terkoreksi 0,27 persen, franc Swiss melemah 0,24 persen, dollar Kanada turun 0,34 persen, serta dollar Australia yang melemah 0,27 persen.
Isu Venezuela Tekan Rupiah
Pengamat pasar uang, Lukman Leong, menjelaskan bahwa nilai tukar rupiah berpotensi melemah terhadap dollar AS seiring meningkatnya kekhawatiran geopolitik global. Penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, dinilai memicu sentimen risk-off di pasar keuangan, yang mendorong investor untuk mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Dalam kondisi tersebut, aliran dana global diperkirakan beralih ke aset aman, terutama dollar AS, sehingga memberikan tekanan tambahan pada rupiah. Lukman Leong menegaskan, “Rupiah diperkirakan melemah terhadap dollar AS setelah penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, memicu kekhawatiran geopolitik yang menekan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.”
Ia juga memperkirakan pergerakan rupiah pada hari Selasa (6/1/2026) akan berada dalam kisaran Rp 16.650 hingga Rp 16.800 per dollar AS, dengan kecenderungan melemah selama sentimen geopolitik masih membayangi pasar.
IHSG Justru Menguat
Berbanding terbalik dengan rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru ditutup menguat pada perdagangan Senin (5/1/2026). Indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) ini melonjak 1,27 persen atau 111,06 poin, mencapai level 8.859,191.
Berdasarkan data BEI yang dihimpun tim redaksi Mureks, IHSG dibuka di posisi 8.778,73 dan sepanjang hari bergerak di rentang 8.732,32 hingga 8.859,19. Aktivitas transaksi di BEI tercatat ramai, dengan volume perdagangan mencapai 68,79 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp 29,73 triliun. Frekuensi transaksi tercatat hampir 4 juta kali.
Penguatan IHSG juga tecermin dari pergerakan saham secara keseluruhan, di mana sebanyak 446 saham ditutup menguat, 246 saham melemah, dan 114 saham lainnya bergerak stagnan. Kapitalisasi pasar BEI turut meningkat menjadi Rp 16.194,63 triliun.






