Nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu, 7 Januari 2026. Mata uang Garuda diproyeksikan melemah dan bergerak fluktuatif, dengan penutupan di kisaran 16.750 hingga 16.780 rupiah per dolar AS.
Pelemahan ini seiring meningkatnya ketidakpastian global dan risiko geopolitik yang memicu sentimen risk-off di kalangan pelaku pasar. Kondisi ini membatasi ruang penguatan rupiah, meskipun fundamental domestik relatif terjaga.
Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyoroti dampak konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela sebagai salah satu faktor utama. Selain itu, penurunan aktivitas manufaktur AS juga turut membebani prospek perekonomian Negeri Paman Sam ke depan. Menurut Mureks, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan kurs rupiah dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Rabu (7/1), akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah di kisaran 16.750 – 16.780 rupiah per dollar AS.
Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Selasa (6/1) di Jakarta, nilai tukar rupiah telah melemah 18 poin atau 0,11 persen. Rupiah ditutup pada level 16.758 rupiah per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), Taufan Dimas Hareva, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sentimen global. “Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sentimen global yang masih didominasi penguatan dollar AS dan sikap risk-off pelaku pasar,” kata Taufan di Jakarta.
Mureks mencatat bahwa data Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur ISM AS pada Desember 2025 menunjukkan kontraksi. Angka PMI ISM tercatat sebesar 47,9 persen, mengalami penurunan 0,3 poin persentase dibandingkan November 2025 yang sebesar 48,2 persen. Angka ini juga berada di bawah perkiraan pasar sebesar 48,3 persen.
Meskipun demikian, Taufan menambahkan bahwa data kontraksi PMI tersebut belum cukup kuat untuk mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve (The Fed).






