Keuangan

Rupiah Dibuka Menguat Tipis, Ancaman Geopolitik Venezuela Bayangi Potensi Pelemahan

Nilai tukar rupiah bergerak menguat tipis terhadap dollar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Selasa (6/1/2026). Berdasarkan data perdagangan yang dihimpun Mureks dari Bloomberg, pukul 09.20 WIB, rupiah tercatat berada di posisi Rp 16.749 per dollar AS. Angka ini menunjukkan penguatan 9 poin atau sekitar 0,05 persen dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya.

Pada penutupan perdagangan Senin kemarin, mata uang Garuda sempat berakhir melemah di level Rp 16.740 per dollar AS, turun 15 poin atau 0,09 persen.

Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.

Kekhawatiran Geopolitik Bayangi Rupiah

Namun, pengamat pasar uang, Lukman Leong, menilai potensi pelemahan rupiah terhadap dollar AS masih membayangi. Hal ini seiring meningkatnya kekhawatiran geopolitik global yang memicu sentimen risk-off di pasar keuangan.

Penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, dinilai menjadi pemicu utama sentimen tersebut. Kondisi ini membuat investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Dalam kondisi tersebut, aliran dana global diperkirakan beralih ke aset aman, terutama dollar AS, sehingga memberi tekanan tambahan pada rupiah. Lukman Leong menjelaskan, “Rupiah diperkirakan melemah terhadap dollar AS setelah penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, memicu kekhawatiran geopolitik yang menekan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.”

Ia pun memperkirakan pergerakan rupiah berada dalam kisaran Rp 16.650 hingga Rp 16.800 per dollar AS. “Range Rp 16.650- Rp 16.800 (per dollar AS),” paparnya, menambahkan bahwa kecenderungan melemah akan terus membayangi selama sentimen geopolitik masih kuat di pasar.

IHSG Dibuka Melemah Tipis, Berpotensi Cetak Rekor

Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga dibuka melemah tipis pada Selasa pagi ini. Indeks turun 2,69 poin atau 0,03 persen ke level 8.856,50.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan bahwa IHSG dibuka di 8.890,72 dan sempat mencatatkan level tertinggi sementara di 8.895,27. Namun, indeks berbalik melemah hingga menyentuh angka 8.839,01, sebelum kembali bergerak di kisaran 8.850-an.

Adapun volume perdagangan mencapai 9,21 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 3,85 triliun. Frekuensi perdagangan menyentuh 590.038 kali. Tercatat ada 297 saham menguat, 256 saham melemah, dan 158 saham stagnan.

Meskipun dibuka melemah, IHSG diperkirakan melanjutkan tren penguatannya pada perdagangan hari ini, setelah indeks naik 1,27 persen ke level 8.859 pada penutupan perdagangan Senin kemarin.

Analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memproyeksikan IHSG hari ini bakal mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH). Menurut Herditya, “Posisi IHSG diperkirakan sedang berada pada bagian dari wave (v) dari wave [iii], sehingga IHSG masih berpeluang menguat ke rentang area 8,852-8,905.”

Adapun level support IHSG berada di kisaran 8.705 dan 8.584. Sementara resistance terdekat diperkirakan di area 8.870-8.960. Investor disarankan tetap mencermati pergerakan indeks serta dinamika volume transaksi untuk mengantisipasi potensi lanjutan tren penguatan maupun koreksi jangka pendek.

Mureks