Tren

Rio Tinto dan Glencore Jajaki Merger Raksasa, Berpotensi Bentuk Perusahaan Tambang Terbesar Dunia Bernilai US$200 Miliar

Rio Tinto Group dikabarkan sedang dalam pembicaraan serius untuk mengakuisisi Glencore Plc. Langkah strategis ini berpotensi membentuk perusahaan pertambangan terbesar di dunia dengan nilai pasar gabungan melampaui US$200 miliar atau setara Rp3.366 triliun.

Pembicaraan merger ini kembali mengemuka setelah upaya serupa tahun lalu gagal mencapai kesepakatan. Kedua raksasa pertambangan itu telah membahas kemungkinan penggabungan sebagian atau seluruh bisnis mereka, termasuk opsi akuisisi seluruh saham, seperti yang diungkapkan dalam pernyataan terpisah pada Kamis (8/1/2026).

Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.

Pasca-kabar ini, saham Glencore melonjak 8,8% di bursa New York, Amerika Serikat. Sebaliknya, saham Rio Tinto mengalami penurunan 5% pada awal perdagangan di Sydney, Australia.

Jika terwujud, penggabungan ini akan menjadi kesepakatan terbesar dalam industri pertambangan global yang sedang dilanda “demam akuisisi”. Produsen-produsen besar berupaya keras memperkuat posisi mereka dalam produksi tembaga, logam krusial untuk transisi energi yang saat ini diperdagangkan mendekati rekor tertinggi.

Baik Glencore maupun Rio Tinto memiliki aset tembaga yang signifikan. Kesepakatan potensial ini akan menciptakan entitas pertambangan baru yang mampu menyaingi BHP Group, pemegang gelar perusahaan pertambangan terbesar saat ini.

Namun, analis sebelumnya telah menyoroti sejumlah potensi hambatan dalam kesepakatan ini. Salah satunya adalah Glencore yang merupakan salah satu produsen batu bara terbesar di dunia, sebuah bisnis yang telah ditinggalkan oleh Rio Tinto. Selain itu, kedua perusahaan juga dikenal memiliki budaya korporasi yang sangat berbeda. Mureks mencatat bahwa perbedaan fundamental ini bisa menjadi tantangan serius dalam proses integrasi.

Mureks