Ribuan pendukung Presiden Venezuela Nicolas Maduro membanjiri jalanan Ibu Kota Caracas pada Minggu (4/1/2026), menuntut pembebasan pemimpin mereka yang ditangkap oleh Amerika Serikat (AS). Aksi ini terjadi sehari setelah militer AS dilaporkan menyerang Caracas dan menahan Maduro.
Para loyalis Maduro, beberapa di antaranya menenteng senjata dan plakat, menyuarakan dukungan penuh di tengah krisis politik yang memanas. Mereka meneriakkan slogan ‘Venezuela bersama Nicolas’ dan memamerkan figur aksi ‘Super Bigote’ serta ‘Super Cilita’, yang melambangkan Maduro dan istrinya, Cilia Flores, sebagai pahlawan di mata para pendukungnya.
Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.
Para pengunjuk rasa juga secara tegas menolak kemungkinan terpilihnya pemerintahan yang didukung AS. Yolanda Ivimas, seorang perwakilan medis, menegaskan, “Kami bebas dan berdaulat. Donald Trump tidak bisa memiliki minyak kami. Maria Corina, Rubio, Edmundo tidak satu pun dari mereka akan memerintah kami. Kami memiliki seorang presiden, dan namanya adalah Nicolas Maduro.”
Mureks mencatat bahwa Maduro saat ini berada di pusat penahanan New York, menunggu sidang pengadilan pada Senin (5/1/2026) atas tuduhan narkoba. Anggota kelompok milisi yang dikenal sebagai “Colectivos” juga terlihat membawa senjata saat ikut serta dalam pawai yang menyerukan pembebasan Presiden Venezuela tersebut.
Penangkapan Maduro terjadi setelah militer AS melancarkan serangan ke Caracas pada Sabtu dini hari (3/1/2026), di mana setidaknya tujuh ledakan terdengar. Dalam operasi tersebut, Presiden Nicolas Maduro dan istrinya dilaporkan ditangkap oleh pasukan AS.






