Keuangan

PwC Proyeksikan Pasar Privat Jadi Tulang Punggung Pendapatan Industri Manajemen Aset Global pada 2030

JAKARTA – Pasar privat diproyeksikan menjadi tulang punggung utama pendapatan industri manajemen aset global pada tahun 2030. Proyeksi ini muncul seiring meningkatnya ketertarikan investor terhadap aset digital dan produk bertokenisasi, menandai pergeseran signifikan dalam lanskap keuangan global.

Pasar Privat Diproyeksikan Dominasi Pendapatan Industri

Menurut laporan 2025 Global Asset & Wealth Management Report dari PwC, pendapatan pasar privat diperkirakan mencapai 432,2 miliar dollar AS atau setara Rp 7.131,3 triliun pada tahun 2030. Angka ini akan menyumbang lebih dari separuh total pendapatan industri manajemen aset secara keseluruhan.

Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id

Sejalan dengan proyeksi tersebut, total aset kelolaan (AUM) global juga diprediksi melonjak. Mureks mencatat bahwa AUM global akan meningkat dari 139 triliun dollar AS (Rp 2.293,5 kuadriliun) pada tahun 2024 menjadi 200 triliun dollar AS (Rp 3.300 kuadriliun) pada tahun 2030, dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 6,2 persen.

Tekanan Margin Bayangi Pertumbuhan Pendapatan

Meskipun pendapatan dan AUM industri manajemen aset global menunjukkan pertumbuhan yang kuat, tekanan terhadap profitabilitas masih menjadi tantangan serius. Survei PwC mengungkapkan bahwa 89 persen manajer aset melaporkan adanya tekanan margin dalam lima tahun terakhir.

Analisis PwC lebih lanjut menunjukkan bahwa laba per AUM telah menurun 19 persen sejak tahun 2018 dan diproyeksikan akan kembali turun sebesar 9 persen menuju tahun 2030. Tekanan biaya operasional menjadi faktor utama, di mana lebih dari dua pertiga pendapatan, atau sekitar 68 persen dari setiap dollar AS yang diperoleh, habis untuk pengeluaran operasional.

Biaya Tinggi Picu Investor Pindah Manajer Aset

Selain menekan margin perusahaan, biaya juga menjadi penentu krusial dalam keputusan investasi. Hampir tiga perlima investor institusional menyatakan kemungkinan besar atau sangat mungkin untuk mengganti manajer aset mereka, semata-mata karena biaya yang dinilai terlalu tinggi.

“Margin terus berada di bawah tekanan, sementara sensitivitas investor terhadap biaya berada pada titik tertinggi. Perusahaan perlu melakukan penataan ulang struktural terhadap profitabilitas,” ujar John Dovaston, PwC Indonesia Advisor, dalam keterangan tertulis, Selasa (6/1/2026).

Mureks