Internasional

Purbaya Yudhi Sadewa Ungkap Strategi Trump di Perang Dagang, Sebut Tak Segila yang Dibayangkan

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sempat memberikan pandangan menarik terkait kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Sebelum insiden penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Purbaya menilai langkah-langkah Trump pada periode keduanya tidak selalu ugal-ugalan seperti yang banyak dikhawatirkan pasar.

Purbaya menyoroti strategi Trump saat pertama kali melancarkan perang tarif resiprokal pada April 2025. Menurutnya, Trump kala itu hanya menggertak negara-negara mitra dagang utamanya untuk mendorong penerapan kebijakan perdagangan yang lebih adil. Meskipun kebijakan awal tersebut sempat mengguncang pasar keuangan global, Trump tetap membuka ruang perundingan.

Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id

“IHSG dan Rupiah tertekan sebelum penundaan 90 hari, jadi ketika diumumkan semua tertekan karena semua panik, mereka bilang ekonomi akan kacau balau,” kata Purbaya saat konferensi pers realisasi APBN 2025 di Jakarta, Kamis (8/1/2026). Mureks mencatat bahwa pernyataan ini disampaikan di tengah analisis pasar terhadap dampak kebijakan AS.

Ketika kebijakan Trump mengguncang pasar keuangan dan menekan pasar saham serta kurs rupiah Indonesia, Purbaya mengungkapkan bahwa Trump justru mengajak negara-negara mitra dagang utamanya, termasuk Indonesia, untuk merundingkan masalah tarif dagang tersebut. Setelah proses perundingan, pasar keuangan berangsur tenang, tekanan kurs mereda, dan IHSG kembali menguat.

“Ternyata enggak, Trump juga ternyata enggak segila yang kita duga, dia mundurkan pelan-pelan pelaksanaannya, ya itu keliatannya merupakan strategi Trump tekan negara-negara untuk melakukan negosiasi perdagangan dan lain-lain yang lebih menguntungkan mereka,” paparnya.

Meski demikian, Purbaya menyayangkan langkah lanjutan Trump yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro beberapa waktu lalu. “Kalau saya pikir sih lebih bagus seperti itu dibandingkan kasus Venezuela,” tegas Purbaya, menunjukkan adanya batas toleransi terhadap kebijakan luar negeri AS.

Mureks