Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 akan mencapai 5,45 persen. Angka ini lebih rendah dari target pemerintah sebelumnya yang berada di kisaran 5,7 hingga 6 persen. Namun, proyeksi terbaru Purbaya tersebut dinilai masih terlalu optimistis oleh sejumlah pengamat ekonomi.
Purbaya menyampaikan revisi proyeksi ini dalam Konferensi Pers APBN KiTa edisi Desember di Jakarta, Kamis (8/1/2026). Penurunan target ini mencerminkan adanya penyesuaian terhadap kondisi perekonomian yang berkembang.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.
Proyeksi Ekonom Lebih Konservatif
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Riza Annisa Pujarama, memiliki pandangan yang lebih konservatif. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi pada periode Oktober-Desember 2025 kemungkinan hanya berkisar antara 5 hingga 5,1 persen. “Saya rasa pertumbuhannya masih terbatas di kisaran 5 hingga 5,1 persen,” kata Riza kepada Kompas.com pada Jumat (9/1/2026).
Riza menjelaskan, meskipun liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) serta insentif fiskal yang digelontorkan pemerintah menjadi penopang pertumbuhan, terutama di sektor transportasi, akomodasi, dan perdagangan, dampak ekonomi yang lebih besar masih tertahan. Hal ini disebabkan oleh daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Sektor Padat Karya Masih Tertekan
Lebih lanjut, Riza berpendapat bahwa sektor industri manufaktur padat karya secara umum masih menghadapi tekanan signifikan pada kuartal IV 2025. Catatan Mureks menunjukkan, tren pertumbuhan subsektor industri padat karya seperti industri pengolahan tembakau, tekstil dan pakaian jadi, serta industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, cenderung menurun sepanjang kuartal I hingga kuartal III 2025.
Senada dengan Riza, ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Budi Frensidy, juga belum melihat tanda-tanda kebangkitan sektor padat karya hingga akhir 2025. “Saya pikir belum ada tanda-tanda sektor padat karya sudah bangkit, yang terjadi malah sebaliknya,” ungkap Budi.
Budi sendiri memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 akan berada di kisaran 5,2 persen, sedikit lebih tinggi dari proyeksi Riza namun tetap di bawah angka yang disampaikan Menkeu Purbaya. Ia mengakui efek liburan Nataru memang menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi pada tiga bulan terakhir 2025.
Uji Ketahanan Ekonomi di Tahun 2025
Chief Economist Group Bank Mandiri, Andry Asmoro, menambahkan bahwa tahun 2025 secara keseluruhan kembali menguji ketahanan perekonomian Indonesia. Berbagai dinamika global dan domestik menjadi tantangan yang harus dihadapi untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan.






