Tiga anggota keluarga, terdiri dari seorang ibu dan dua anaknya, ditemukan meninggal dunia di dalam rumah kontrakan mereka di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Jumat (2/1) lalu. Penemuan tragis ini terungkap setelah salah satu anak korban berteriak histeris, memicu penyelidikan intensif oleh pihak kepolisian yang kini menanti hasil tes toksikologi untuk mengungkap penyebab pasti kematian.
Detik-detik Penemuan Jasad dan Kesaksian Tetangga
Peristiwa memilukan ini pertama kali diketahui oleh Khadafi, anak kedua korban, usai pulang bekerja pada Jumat pagi. Tetangga korban, Aryuni Wulan Febri (51), menceritakan detik-detik saat Khadafi berteriak meminta pertolongan.
Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id
“Iya, teriak histeris, teriak-teriak gitu, makanya saya pikir kan berantem,” ujar Aryuni Wulan Febri saat ditemui di kediamannya, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (3/1) kemarin.
Aryuni menambahkan, Khadafi berteriak memanggil ibunya dan meminta bantuan karena menduga ibunya keracunan. “‘Ibu, ibu’ gitu, pokoknya teriak-teriak gitu. Terus pas saya keluar gini, saya tanya, ‘Kenapa?’, saya gitu tanya kan, ‘Ibu saya keracunan tolong, ibu tolong, tolong’ gitu. ‘Kenapa sih?’ ibu masuk dulu lihat, gitu kan. Begitu saya lihat udah posisi tergeletak semua kan ya, jadi kan saya takut,” kenang Aryuni.
Korban meninggal dunia diidentifikasi sebagai Siti Solihah (50) dan dua anaknya, Afiah Al Adilah Jamaludin (28) serta Adnan Al Abrar Jamaludin (14). Sementara itu, anak ketiga Siti, Abdullah Syauqi Jamaludin (23), ditemukan selamat namun masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Latar Belakang Keluarga dan Keterkejutan Warga
Menurut Aryuni, keluarga korban baru sekitar lima bulan mengontrak di lokasi tersebut. Ia mengaku belum terlalu akrab dengan para korban. Aryuni menyebut, almarhum Afiah dan Syauqi sehari-hari berjualan minuman es. Sang ibu, Siti Solihah, cenderung lebih banyak beraktivitas di dalam rumah.
“Di dalam, kebanyakan di dalam. Kalau keluar tuh kalau lagi perlu apa gitu, misalnya lagi mau kontrol, check up, itu keluar diboncengin anaknya, perempuan itu suka ketemu, ‘Ke mana bu? kontrol’, gitu aja. Sekadar, pokoknya pas ngobrolnya pas begitu bertatap muka aja,” jelas Aryuni.
Aryuni juga mengaku sangat terkejut dengan kejadian ini, lantaran selama ini ia tidak pernah mendengar adanya keributan dari rumah korban. “Kaget banget. Begitu lihat itu sampai saya nggak doyan makan. Kebayang gitu kok bisa gitu. Sampai biasanya suka berpapasan gitu kan, nggak nyangka. Nggak nyangka. Suka, ibu ke mana apa gitu. Begitu lihat kondisi begitu udah kaget banget saya. Kaget banget kok bisa gitu, kenapa, selama ini saya nggak pernah denger ribut-ribut juga gitu,” tuturnya.
Autopsi Selesai, Hasil Toksikologi Dinanti
Jenazah ketiga korban telah dimakamkan pada Sabtu (3/1) kemarin di TPU Rorotan, Jakarta Utara. Kepala Rumah Sakit (Karumkit) RS Polri Kramat Jati, Brigjen dr Prima Heru, mengonfirmasi bahwa proses autopsi telah rampung dilakukan.
“Jenazah sudah diautopsi dan sudah diserahkan keluarganya,” kata Brigjen dr Prima Heru saat dikonfirmasi, Sabtu (3/1).
Mureks mencatat bahwa meskipun autopsi telah selesai, pihak kepolisian masih menunggu hasil tes toksikologi. Hal ini krusial untuk memastikan apakah penyebab kematian ketiga korban tewas benar karena racun atau faktor lain. “Untuk hasil (penyebab indikasi racun) nunggu hasil toksikologi,” terang Prima.






