Internasional

PM Denmark: “Jika AS Serang Negara NATO, Semuanya Berakhir” di Tengah Ambisi Trump Kuasai Greenland

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menyuarakan ambisinya untuk mengakuisisi Greenland, wilayah otonom Denmark. Keinginan Trump ini memicu reaksi keras dari Denmark, dengan Perdana Menteri Mette Frederiksen bahkan memperingatkan potensi berakhirnya aliansi militer NATO jika AS mengambil tindakan militer terhadap negara anggota.

Pernyataan terbaru Trump muncul pada Senin (5/1/2026) saat berbicara kepada wartawan di pesawat kepresidenan Air Force One yang mengudara menuju Washington DC. Ia menegaskan, “Kita membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional, dan Denmark tidak akan mampu melakukannya.” Pernyataan ini dilansir oleh kantor berita AFP.

Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id

Ambisi Trump untuk menguasai pulau terbesar di dunia ini bukanlah hal baru. Keinginan tersebut sudah disampaikannya sebelum resmi menjabat sebagai Presiden AS untuk periode kedua. “Kami akan membuat Anda tetap aman, kami akan membuat Anda kaya, dan bersama-sama, kita akan membawa Greenland ke level yang belum pernah Anda bayangkan sebelumnya,” cetus Trump seperti dilansir Reuters pada Rabu (5/3/2025).

Trump juga menyoroti aspek demografi dan strategis Greenland. “Populasinya sangat kecil, tanahnya sangat, sangat luas, dan sangat penting bagi keamanan militer,” sebut Trump dalam pidatonya.

Ketegangan Kembali Memanas

Setelah sempat mereda, isu Greenland kembali mencuat pada Desember 2025. Pada Minggu (21/12/2025), Trump menunjuk Gubernur Louisiana Jeff Landry sebagai utusan khusus untuk Greenland. Langkah ini segera memicu kemarahan Denmark, yang kemudian memanggil Duta Besar AS.

Trump kembali menekankan urgensi penguasaan Greenland dari perspektif keamanan nasional. “Kita membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional. Bukan untuk mineral. Jika Anda melihat Greenland, Anda melihat ke atas dan ke bawah pantai, Anda akan melihat kapal-kapal Rusia dan China di mana-mana,” ujarnya, dilansir AFP pada Selasa (23/12/2025). Ia menambahkan, “Kita membutuhkannya untuk keamanan nasional. Kita harus memilikinya,” seraya menyebut Landry ‘ingin memimpin serangan’.

Ketegangan semakin meningkat setelah insiden penyerangan Venezuela dan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh AS pada Sabtu (1/3/2026).

Denmark dan Greenland Meradang

Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen mengecam keras wacana pencaplokan Greenland oleh AS. Ia mengingatkan bahwa tindakan tersebut dapat mengakhiri aliansi militer NATO. “Jika Amerika Serikat memilih untuk menyerang negara NATO lain secara militer, maka semuanya akan berakhir,” kata Frederiksen kepada stasiun televisi Denmark TV2 pada Senin (5/1/2026) waktu setempat.

Frederiksen melanjutkan, “Artinya, itu termasuk NATO kita dan dengan demikian keamanan yang telah diberikan sejak akhir Perang Dunia Kedua,” seperti dilansir Associated Press pada Selasa (6/1/2026). Komentar ini meningkatkan kekhawatiran di Denmark dan Greenland, yang merupakan wilayah semi-otonom kerajaan Denmark dan bagian dari NATO.

Senada dengan PM Denmark, Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen juga mengeluarkan peringatan tegas. Ia meminta Trump untuk mengakhiri ambisi pencaplokan tersebut. “Cukup sudah. Tidak ada lagi tekanan. Tidak ada lagi sindiran. Tidak ada lagi fantasi aneksasi,” tulis Jens-Frederik Nielsen di Facebook. Ia menambahkan, “Kami terbuka untuk dialog. Kami terbuka untuk diskusi. Tetapi ini harus terjadi melalui saluran yang tepat dan dengan menghormati hukum internasional.”

Greenland: Pulau Strategis di Kutub Utara

Menurut BBC, Greenland adalah pulau terbesar di dunia yang terletak di Kutub Utara, dengan ukuran melebihi Papua dan Kalimantan. Meskipun demikian, Greenland merupakan wilayah dengan populasi terjarang di dunia, hanya sekitar 56.000 jiwa, mayoritas adalah penduduk asli Inuit.

Sekitar 80% wilayahnya tertutup es, dengan sebagian besar penduduk tinggal di pantai barat daya, di sekitar ibu kota Nuuk. Sebagai wilayah otonomi Denmark, Greenland juga menjadi lokasi pangkalan militer Denmark dan AS. Perekonomiannya sangat bergantung pada perikanan dan ditopang oleh pemerintah Denmark, yang menyumbang sekitar seperlima dari PDB.

Mureks mencatat bahwa dalam beberapa tahun terakhir, minat terhadap sumber daya alam Greenland meningkat, terutama penambangan mineral langka, uranium, dan besi. Sumber daya ini diperkirakan menjadi lebih mudah diakses seiring mencairnya sebagian es akibat pemanasan global, menambah nilai strategis pulau tersebut di mata dunia.

Mureks