Olahraga

Piala Afrika 2025 di Maroko Sepi Penonton: Boikot Warga, Tiket Sulit, dan Akses Transportasi Mahal Jadi Sorotan

Penyelenggaraan Africa Cup of Nations (AFCON) atau Piala Afrika 2025 di Maroko tengah bergulir, namun satu fenomena mencolok menjadi perhatian: minimnya kehadiran penonton di stadion. Meskipun Maroko telah menginvestasikan dana besar untuk infrastruktur dan fasilitas stadion yang tergolong baik, okupansi selama fase grup turnamen ini jauh dari harapan.

Tiga Faktor Utama di Balik Sepinya Penonton

Tim redaksi Mureks mencatat bahwa krisis penonton di Piala Afrika 2025 ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi dari beberapa faktor krusial:

Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

  • Boikot Warga Maroko Akibat Kekecewaan pada Penyelenggara Negara

    Krisis penonton ini berakar dari gelombang protes besar yang melanda Maroko pada pertengahan hingga akhir tahun 2025. Protes ini dipicu oleh kematian delapan perempuan saat melahirkan di RS Hassan II Agadir dalam waktu berdekatan, yang menyingkap bobroknya infrastruktur kesehatan di negara tersebut. Ironisnya, pada saat yang sama, pemerintah Maroko justru sibuk merenovasi Grand Stade d’Agadir, salah satu stadion utama AFCON 2025.

    Protes kemudian meluas pada September 2025, diinisiasi oleh anak-anak muda yang terdampak krisis lapangan kerja. Bagi mereka, penyelenggaraan turnamen sepak bola akbar se-Afrika menjadi tidak relevan di tengah perjuangan untuk mengakses hak-hak dasar seperti fasilitas kesehatan dan pekerjaan layak. Menurut survei Sunergia Group dan L’Economiste yang dilansir Hespress, hanya sekitar 8 persen penduduk Maroko yang berupaya membeli tiket AFCON.

  • Kesulitan Mendapatkan Tiket Resmi

    Selain boikot, masalah lain yang berkontribusi pada sepinya stadion adalah sulitnya calon penonton mendapatkan tiket resmi. Sejumlah warganet melaporkan bahwa situs resmi AFCON 2025 kerap sulit diakses akibat lalu lintas yang tinggi. Ketika berhasil masuk, tiket seringkali sudah ludes terjual. Namun, fakta bahwa stadion tetap sepi mengindikasikan adanya praktik penimbunan tiket oleh calo yang bertujuan menjualnya kembali dengan harga tinggi.

    Proses pendaftaran Fan ID melalui aplikasi Yalla, yang juga dirancang untuk mengurus eVisa bagi penonton asing, justru menambah kerumitan. Banyak keluhan muncul terkait kelancaran akses dan gangguan teknis yang berulang, memaksa calon penonton untuk berulang kali mengunduh dan memasang ulang aplikasi.

  • Akses Transportasi Murah yang Langka bagi Penggemar Lokal Afrika

    Faktor logistik juga memainkan peran besar. Bagi penggemar lokal Afrika, akses transportasi yang terjangkau masih menjadi tantangan. Banyak negara di Afrika menghadapi masalah kemiskinan dan konflik internal, membuat perjalanan ke luar negeri untuk menonton sepak bola menjadi kemewahan yang sulit dijangkau.

    Selain itu, Afrika minim pilihan maskapai penerbangan berbiaya rendah (low-cost carrier) seperti di Eropa atau Asia. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kecenderungan proteksionisme, mata uang yang tidak stabil, dan ketimpangan kesiapan infrastruktur antarnegara. Lokasi Maroko di Afrika Utara juga cukup jauh dari negara-negara Afrika subsahara, menambah beban biaya perjalanan.

Sepinya penonton di stadion selama Piala Afrika 2025 adalah kombinasi dari berbagai faktor yang saling berkaitan erat dengan minimnya komitmen pembangunan merata di negara-negara Afrika. Sayangnya, krisis penonton ini diperkirakan tidak akan cukup signifikan untuk mendorong evaluasi ulang terhadap ketimpangan distribusi sumber daya di benua tersebut.

Mureks