Kalangan pelaku usaha di Indonesia mulai mewaspadai potensi kenaikan biaya logistik internasional menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Meskipun dampak langsung terhadap arus perdagangan lintas kawasan Amerika belum terasa, antisipasi terhadap tindakan tersebut dinilai penting.
Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI), Benny Soetrisno, menyatakan bahwa hingga saat ini, “Efek USA Serang Venezuela belum ada untuk Ekspor maupun impor dari Benua Amerika, baik dari dan ke USA maupun dari dan ke Amerika selatan.” Pernyataan ini disampaikan Benny kepada CNBC Indonesia pada Selasa (6/1/2025). Pelaku usaha di Tanah Air, menurut Mureks, masih memantau perkembangan situasi geopolitik ini tanpa mengambil langkah tergesa-gesa, di mana aktivitas dagang dinilai berjalan normal karena kontrak dan kebutuhan pasar tetap menjadi pertimbangan utama.
Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id
Namun, Benny Soetrisno menambahkan bahwa pengusaha tetap bersiap mengantisipasi perubahan jalur dan biaya logistik jika ketegangan berlanjut. “Namun saya menghitung akan adanya perubahan angkutan kapal laut untuk tujuan ke Amerika selatan yang Atlantic Rim (negara di lingkaran Samudera Atlantik), bukan yang Pacific Rim (negara di lingkaran Samudera Pasifik),” jelasnya.
Rentetan efek yang kemungkinan bakal terjadi adalah kenaikan biaya logistik. Hal ini disebabkan kapal pengangkut barang harus menempuh jarak lebih jauh demi alasan keamanan. “Masuk Pacific Rim bersebelahan dengan Columbia, kepastian kenaikan biaya belum nampak, namun biasanya factor keamanan karena adanya perang akan menjadi bagian factor kenaikan Biaya,” ujar Benny.
Senada dengan GPEI, Supply Chain Indonesia (SCI) juga menilai bahwa meskipun konflik tersebut tidak berdampak langsung terhadap jalur perdagangan Indonesia-Amerika Selatan, potensi dampak lanjutan (secondary impact) tetap perlu diwaspadai. Gangguan geopolitik di negara produsen energi berisiko memicu volatilitas harga minyak global yang pada akhirnya berdampak pada biaya bahan bakar dan ongkos logistik internasional.
Kenaikan biaya bunker dan penyesuaian surcharge pelayaran berpotensi meningkatkan biaya freight pada rute lintas Pasifik maupun rute dengan transit di hub utama global. Kondisi ini dapat menekan daya saing harga produk ekspor Indonesia, terutama untuk komoditas manufaktur dan produk bernilai tambah menengah yang sensitif terhadap biaya logistik.
Founder dan CEO SCI, Setijadi, juga menyoroti dampak pada reliabilitas jadwal pengiriman. “Selain faktor biaya, eskalasi ketegangan global juga berpotensi memengaruhi reliabilitas jadwal pengiriman. Penyesuaian rute pelayaran, konsolidasi muatan, hingga perubahan port of call oleh perusahaan pelayaran dapat memperpanjang lead time dan meningkatkan ketidakpastian pasokan ke pasar Amerika Selatan, termasuk ke negara tujuan utama seperti Peru dan Brasil,” kata Setijadi.






