Pemerintah Indonesia mengambil langkah strategis dengan memangkas target produksi batu bara untuk tahun 2026. Keputusan ini bertujuan untuk menjaga stabilitas harga komoditas di pasar global dan melestarikan cadangan energi nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan bahwa produksi batu bara akan diturunkan menjadi sekitar 600 juta ton pada tahun ini.
Namun, Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) menilai bahwa kebijakan pengurangan produksi ini tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap harga batu bara dalam jangka panjang. Plt Direktur Eksekutif APBI, Gita Mahyarani, menjelaskan bahwa meskipun pemangkasan target produksi berpotensi menciptakan sentimen positif di pasar, efek penguatan harga tersebut kemungkinan besar hanya bersifat sementara.
Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
“Penurunan target produksi berpotensi memberi dampak ke harga pada jangka pendek dan menengah. Namun tidak signifikan dan tidak berkelanjutan dalam jangka panjang, mengingat banyak faktor yang mempengaruhi seperti dinamika pasar global, permintaan dan kebijakan setiap negara,” ungkap Gita kepada CNBC Indonesia, Jumat (9/1/2026).
Menurut Gita, mekanisme pembentukan harga batu bara global sangat kompleks. Berbagai variabel eksternal seperti kondisi ekonomi dunia dan kebijakan energi dari negara-negara importir memegang peranan vital yang sulit dikendalikan hanya dengan mengurangi pasokan dari Indonesia.
Lebih lanjut, Gita juga menyoroti potensi dampak kebijakan ini terhadap rantai usaha industri pertambangan jika diterapkan dalam jangka panjang. “Dari sisi industri jika dalam jangka panjang kebijakan ini dapat berdampak pada rantai usaha, termasuk volume kerja, utilisasi alat berat, jam operasi, dan tenaga kerja, terutama di tambang dengan biaya produksi tinggi,” jelasnya.
Meski demikian, APBI menyatakan apresiasinya terhadap langkah pemerintah. “Namun kami tetap mengapresiasi upaya pemerintah dalam mengendalikan produksi untuk menjaga keseimbangan pasar dan stabilitas harga,” tutup Gita.
Sebelumnya, Menteri Bahlil Lahadalia dalam Konferensi Pers Kinerja Sektor ESDM 2025 pada Kamis (8/1/2026) menegaskan komitmen pemerintah untuk menurunkan produksi batu bara dan nikel. “Jadi produksi kita akan turunkan supaya harga bagus dan tambang kita untuk cucu kita. Bangsa ini harus berjalan terus, lingkungan kita jaga dan ini juga terjadi tidak hanya di batu bara termasuk nikel kita akan sesuaikan kebutuhan industri dan suplai ore nikel kita,” terang Bahlil.
Sebagai perbandingan, catatan Mureks menunjukkan realisasi produksi batu bara pada tahun 2025 mencapai 790 juta ton. Angka target 600 juta ton untuk 2026 menunjukkan penurunan yang cukup signifikan.
Terkait nikel, Menteri Bahlil belum dapat menyampaikan angka pasti penurunan produksi. Ia hanya menyebutkan bahwa produksi nikel akan disesuaikan dengan kebutuhan industri. “Kami akan sesuaikan dengan kebutuhan industri dan kita akan bikin pemerataan, maksudnya industri-industri besar harus beli ore nikel dari pengusaha tambang. Jangan ada monopoli kita ingin perusahaan daerah kuat supaya ada kolaborasi, supaya hilirisasi berkeadilan. kita support tapi harus berkolaborasi,” tegas Bahlil.






