Pemerintah Iran secara total memutus akses internet di seluruh negeri sejak Kamis, 8 Januari 2026. Langkah drastis ini diambil di tengah gelombang protes anti-pemerintah yang terus meluas di berbagai wilayah Iran. Akibat pemutusan ini, jutaan warga Iran terisolasi dari dunia luar, bahkan teknologi VPN yang biasanya menjadi solusi untuk melewati sensor internet, kini tidak berdaya.
Pemadaman internet ini pertama kali dilaporkan oleh NetBlocks, sebuah organisasi pemantau tata kelola internet, pada 8 Januari. NetBlocks mengonfirmasi bahwa Iran sedang “dalam pemadaman internet nasional” dan menyebut insiden ini sebagai kelanjutan dari “serangkaian langkah sensor digital yang meningkat” yang menargetkan protes di seluruh negeri. Pada Jumat dini hari, 9 Januari, NetBlocks menyatakan konektivitas nasional “mendatar pada sekitar 1% dari tingkat normal” setelah 12 jam offline.
Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
David Peterson, General Manager Proton VPN, turut melaporkan adanya gangguan signifikan. Ia mencatat “penurunan dan pemulihan konektivitas yang tidak terduga” pada pukul 15:20 GMT tanggal 8 Januari, diikuti oleh “penurunan konektivitas internet yang tiba-tiba” pada pukul 16:35 GMT. Pada pukul 19:00 GMT, Iran dilaporkan “terputus sepenuhnya dari internet.”
Meskipun VPN seringkali menjadi alat vital untuk melewati sensor internet, dalam kasus pemutusan total seperti ini, VPN menjadi tidak berguna. Proton VPN juga mengonfirmasi penurunan sesi VPN yang berasal dari Iran. “Biasanya, Proton VPN membantu orang-orang yang terkena dampak sensor untuk mengatasinya, tetapi dalam kasus ini, internet telah dimatikan sepenuhnya,” kata perwakilan Proton VPN.
Penggunaan VPN di Iran sendiri memiliki sejarah yang kompleks. Meskipun tidak ilegal, penggunaan VPN tanpa izin telah dilarang sejak 2013. Hanya layanan VPN yang disetujui pemerintah yang diizinkan dan diawasi ketat. Namun, sebuah laporan tahun 2024 menunjukkan bahwa 80% warga Iran mengandalkan VPN untuk melewati pembatasan internet.
Ini bukan kali pertama pemerintah Iran memutus akses internet. Sebelumnya, pemadaman tiga hari terjadi dari 18 hingga 21 Juni 2025, dengan konektivitas penuh baru kembali pada 25 Juni. Catatan Mureks menunjukkan, menurut Top10VPN.com, Iran memutus internet selama total 170 jam pada tahun 2025. Insiden tersebut diperkirakan merugikan ekonomi sebesar 214,7 juta dolar AS dan berdampak pada 71,9 juta orang.
Data dari Surfshark Internet Tracker juga menunjukkan bahwa Iran telah mengganggu koneksi jaringan sebanyak 54 kali di masa lalu, dengan durasi rata-rata 30,3 jam. Gangguan internet yang lebih luas telah terjadi 61 kali, rata-rata 284,7 hari. Aplikasi media sosial seperti Facebook, X (Twitter), YouTube, dan Telegram juga telah dibatasi sebanyak tujuh kali dan saat ini masih dibatasi.
Langkah Iran ini menuai kecaman luas dari para aktivis privasi digital. Index on Censorship menyatakan, “mematikan internet tidak akan menghapus kebenaran. Akses bebas adalah hak, bukan hak istimewa.” Sementara itu, Windscribe VPN berharap pemadaman ini tidak berlangsung lama, dengan mengatakan, “akses internet di zaman sekarang harus menjadi hak asasi manusia.”
Hingga saat ini, belum ada indikasi kapan akses internet akan dipulihkan di Iran. Insiden ini diperkirakan bukan yang terakhir dalam serangkaian sensor internet di negara tersebut.






