Pemecatan Ruben Amorim dari kursi pelatih Manchester United pada awal Januari 2026 kembali menyoroti tantangan besar yang dihadapi setiap manajer di Old Trafford sejak kepergian Sir Alex Ferguson. Amorim, yang hanya bertahan 14 bulan, kini bergabung dalam daftar panjang pelatih top yang gagal mengembalikan kejayaan Setan Merah ke puncak hierarki sepak bola Inggris dan Eropa.
Sejak Ferguson pensiun pada 2013, Old Trafford seolah menjadi ‘kuburan’ bagi reputasi para juru taktik. Mureks mencatat bahwa fenomena ini menimbulkan pertanyaan klasik: apakah masalahnya terletak pada pelatih, ataukah pada struktur klub yang belum sepenuhnya pulih dari era dominasi sebelumnya?
Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Ruben Amorim (November 2024 – Januari 2026)
Dikenal dengan julukan The Young Tactician, Ruben Amorim tiba di Manchester United pada November 2024 dengan harapan besar. Ia mencoba merevolusi gaya main tim dengan formasi tiga bek (3-4-3 High Pressing) yang jarang sukses di Old Trafford. Meski sempat memberikan harapan dengan kemenangan awal yang meyakinkan, keteguhannya pada sistem tersebut dianggap menjadi bumerang, terutama saat pemain kunci mengalami cedera.
Amorim meninggalkan klub tanpa trofi mayor, namun ia berhasil meninggalkan fondasi pemain muda yang cukup solid. Durasi kepelatihannya yang singkat, yakni 14 bulan, menjadikannya salah satu manajer dengan masa jabatan terpendek di era pasca-Ferguson.
Erik ten Hag (2022 – 2024)
Sebelum Amorim, Erik ten Hag menjabat sebagai pelatih dari tahun 2022 hingga 2024. Dijuluki The Disciplinarian, Ten Hag adalah pelatih tersukses dalam hal trofi sejak Jose Mourinho, dengan meraih Carabao Cup dan FA Cup. Ia dikenal berhasil mengembalikan disiplin dalam tim. Namun, inkonsistensi performa di liga dan buruknya struktur pertahanan di musim terakhirnya membuat manajemen (INEOS) kala itu menunjuk Amorim sebagai pengganti.
Ole Gunnar Solskjaer (2018 – 2021)
Sosok yang paling dicintai fans karena DNA klubnya, Ole Gunnar Solskjaer, menjabat dari 2018 hingga 2021. Dijuluki The Legend atau Baby Faced Assassin, Solskjaer berhasil membangun atmosfer positif (‘Good Vibes’) dan serangan balik mematikan. Sayangnya, ketiadaan trofi dan kekalahan taktis di laga-laga besar menjadi akhir perjalanannya, meski sempat membawa tim menjadi runner-up Liga Inggris dan Liga Europa.
Jose Mourinho (2016 – 2018)
Secara statistik trofi, Jose Mourinho adalah yang terbaik pasca-Ferguson, dengan meraih Liga Europa, Carabao Cup, dan Community Shield. Dijuluki The Special One, ia membawa mentalitas juara instan. Namun, gaya main pragmatis yang membosankan dan konflik terbuka dengan pemain, seperti Paul Pogba, membuat situasinya menjadi ‘toksik’ di musim ketiganya.
Louis van Gaal (2014 – 2016)
Louis van Gaal, yang dijuluki The Iron Tulip, membawa filosofi penguasaan bola (possession) yang ekstrem namun sering kali tumpul selama masa jabatannya dari 2014 hingga 2016. Warisan terbesarnya adalah keberaniannya mengorbitkan Marcus Rashford ke tim utama, yang hingga kini masih menjadi andalan klub. Ia berhasil mempersembahkan FA Cup.
David Moyes (2013 – 2014)
Sebagai penerus langsung yang ditunjuk Sir Alex Ferguson, David Moyes dijuluki The Chosen One. Beban ekspektasi yang terlalu berat dan perombakan staf yang radikal membuatnya hanya bertahan 10 bulan. Moyes adalah ‘korban’ pertama dari transisi besar klub pasca-Ferguson, meski sempat meraih Community Shield.
Statistik Komparatif Manajer (Win Rate)
| Manajer | Durasi | Trofi Mayor | Est. Win Rate |
|---|---|---|---|
| Jose Mourinho | 2,5 Tahun | 3 | 58,3% |
| Erik ten Hag | 2,5 Tahun | 2 | ~54% |
| Ruben Amorim | 1,2 Tahun | 0 | ~48% |
| Ole Gunnar Solskjaer | 3 Tahun | 0 | 54,1% |
Kesimpulan: Masalah Pelatih atau Struktur Klub?
Kegagalan Ruben Amorim kembali memunculkan pertanyaan klasik yang terus menghantui Manchester United: apakah masalahnya ada pada kualitas pelatih yang datang, ataukah pada struktur dan budaya klub yang belum sepenuhnya pulih dari kepergian sosok legendaris seperti Sir Alex Ferguson? Dengan perginya Amorim, Manchester United kini kembali ke titik nol, mencari sosok visioner berikutnya yang mampu menanggung beban sejarah dan ekspektasi tinggi di Old Trafford.






