Spekulasi mengenai pengganti Enzo Maresca di kursi pelatih Chelsea semakin menguat, dengan nama Liam Rosenior dari RC Strasbourg menjadi kandidat terdepan. Seiring dengan rumor tersebut, manajemen Strasbourg dilaporkan mulai mempertimbangkan opsi untuk mencari pengganti Rosenior.
Meskipun demikian, pelatih asal Inggris itu dipastikan masih akan mendampingi Strasbourg dari pinggir lapangan dalam laga krusial menghadapi OGC Nice pada Sabtu (10/1) mendatang. Namun, kepergian Rosenior ke Chelsea diyakini hanya tinggal menunggu waktu, mengingat posisinya yang semakin kuat sebagai calon utama suksesor Maresca.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id
Rosenior dan Filosofi BlueCo
Liam Rosenior, yang sebelumnya dikenal sebagai mantan pelatih Hull City dan kini menjabat sebagai pelatih kepala Strasbourg di Ligue 1, dianggap sebagai sosok yang sejalan dengan arah pembangunan Chelsea di bawah kepemilikan BlueCo. Mureks mencatat bahwa Strasbourg selama ini berfungsi sebagai klub pengembang bagi Chelsea, khususnya dalam mematangkan pemain muda sebelum dipromosikan ke Stamford Bridge. Kini, pola tersebut tampaknya diperluas ke level manajerial, dengan Rosenior menjadi contoh terbaru.
Bagi sejumlah pengamat, langkah Chelsea menunjuk pelatih muda lain mungkin terasa berisiko bagi klub yang bercita-cita kembali bersaing di Liga Primer Inggris dan Liga Champions. Namun, pendekatan inilah yang secara konsisten diterapkan manajemen klub London tersebut. Pada laga terakhir di bawah Maresca, Chelsea menurunkan susunan pemain termuda sepanjang sejarah Liga Primer dalam satu musim. Jika Rosenior benar-benar ditunjuk, ia akan menjadi manajer termuda ketiga di divisi tersebut.
Rekam Jejak dan Pengakuan
Meski relatif muda, Rosenior bukan sosok tanpa pengalaman. Ia memimpin lebih dari 150 pertandingan sebagai pelatih kepala dan menghabiskan sekitar tiga tahun sebagai pelatih sebelumnya. Rekam jejak tersebut dinilai cukup untuk membentuk identitas kepelatihan dan filosofi permainannya.
Pemilik Hull City, Acun Ilicali, pernah memberikan waktu yang cukup panjang sebelum akhirnya memutuskan berpisah dengan Rosenior pada Mei 2024, meskipun ia berhasil membawa Hull finis di posisi ketujuh Championship. Ilicali bahkan memberikan pujian tinggi kepada Rosenior.
“Liam adalah pelatih yang sangat bagus dan akan sangat sukses. Dia masih muda dan memiliki karakter yang sangat baik yang membuat tim menyukainya,” kata Ilicali kepada BBC Sport tak lama setelah pemecatan tersebut.
Ilicali menambahkan, “Filosofi sepak bolanya sangat bagus dan mungkin akan sukses, tetapi kami tidak melihatnya cocok dengan karakter kami untuk masa depan,” sebutnya dilansir Sky Sports, Sabtu (3/1).
Filosofi Permainan dan Kecocokan Struktural
Filosofi permainan berbasis penguasaan bola yang dibawa Rosenior kemudian berkembang di Strasbourg dengan tambahan intensitas tekanan tinggi tanpa bola. Statistik menunjukkan Strasbourg menjadi tim dengan tekanan terbaik keenam di Ligue 1 musim ini. Pendekatan tersebut dinilai tidak akan menuntut perubahan besar dari filosofi Maresca apabila Rosenior benar-benar mengambil alih sesi latihan Chelsea.
Bagi sebagian pendukung Chelsea, penunjukan Rosenior mungkin tidak terlalu menggembirakan. Namun, bagi manajemen klub, persoalan dengan Maresca bukan terletak pada gaya bermain, melainkan pada kecocokan struktural. Terdapat pertimbangan matang di balik rencana penunjukan Rosenior, bukan sekadar faktor kedekatan antarklub. Meski masih menyisakan tanda tanya terkait kemampuannya di level tertinggi, pihak klub menilai Rosenior lebih mudah beradaptasi dengan struktur organisasi Chelsea.
Selama masa kepelatihan Maresca, hubungan dengan tim medis klub dilaporkan memburuk, terutama terkait ketersediaan pemain senior dan berpengalaman. Sebaliknya, Rosenior justru mencatat sejarah di Strasbourg dengan menurunkan susunan pemain U-23 Prancis pertama dalam sejarah Ligue 1. Sebagai perbandingan, usia rata-rata skuad Chelsea saat menghadapi Bournemouth tercatat 23 tahun dan 157 hari.
Pada musim pertamanya di level tertinggi, Rosenior mampu menjawab ekspektasi yang tinggi. Ia membawa Strasbourg finis di tujuh besar untuk kedua kali sejak 1981. Keberhasilan tersebut didukung belanja pemain tertinggi kelima di Ligue 1 musim lalu, termasuk kehadiran tiga pemain pinjaman dari Chelsea.
Perjalanan Karier dan Komitmen
Rosenior telah lama dipandang sebagai pelatih bertalenta. Saat menjabat asisten Wayne Rooney di Derby County selama 18 bulan, sejumlah penggemar bahkan menyebutnya sebagai otak di balik operasional tim. “Tanpa pengalaman bersama Wayne, saya rasa saya tidak akan menjadi manajer seperti sekarang,” kata Rosenior kepada The Athletic baru-baru ini.
Menilik perkembangan karier keduanya sejak saat itu, Rosenior dinilai sebagai pihak yang paling diuntungkan. Perpisahannya dengan Derby setelah degradasi ke League One tiga setengah tahun lalu kini terasa kontras dengan peluangnya menangani klub yang menjuarai Piala Dunia Antarklub kurang dari enam bulan lalu. Rosenior dikenal sebagai sosok yang cerdas, jeli membaca permainan, serta mampu memotivasi pemain. Ia juga menyadari bahwa bergabung dengan jaringan BlueCo berpotensi membuka jalan menuju Chelsea, meski kesempatan itu datang lebih cepat dari perkiraannya.
Menanggapi rumor kepindahannya ke Chelsea, Rosenior menegaskan bahwa ia belum mengetahui yang akan terjadi ke depan. Pelatih berusia 41 tahun itu menolak memberikan komentar lebih jauh dan menyatakan fokus penuh pada tugasnya bersama Strasbourg, khususnya jelang laga melawan Nice.
“Saya tidak tahu apa yang akan terjadi. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan,” ujar Rosenior dalam konferensi pers prapertandingan.
“Fokus saya persis sama seperti ketika saya pertama kali datang ke pekerjaan ini. Fokus saya adalah tim, memenangkan pertandingan, semua hal yang harus saya lakukan agar Strasbourg sukses,” tambahnya.
Ia menambahkan bahwa segala kemungkinan di luar kendalinya sebagai pelatih. “Jika ada hal lain yang terjadi antara sekarang dan enam bulan ke depan, itu di luar kendali saya,” lanjutnya. Rosenior menegaskan komitmennya terhadap klub yang saat ini ia tangani. “Tugas saya di sini. Saya mencintai klub ini. Saya bekerja untuk memenangkan pertandingan besok,” ucapnya. “Tentu saja saya sadar ada spekulasi, tetapi saya pikir itu mencerminkan kerja keras yang dilakukan semua orang di klub sepak bola ini,” tegasnya.
Ketika ditanya mengenai komunikasi dengan kelompok pemilik, Rosenior menegaskan hubungan yang harmonis. “Mereka sangat mendukung saya dalam pekerjaan ini. Mereka ingin klub ini berprestasi dengan baik, seperti mereka ingin Chelsea berprestasi dengan baik,” pungkasnya.






