Keuangan

Pasca-Penangkapan Maduro, Analis Proyeksikan Produksi Minyak Venezuela Meningkat Signifikan

Operasi militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela pada Sabtu, 3 Januari 2026, yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro, diperkirakan akan memicu peningkatan produksi minyak mentah negara tersebut. Para analis memproyeksikan kenaikan ini berpotensi menambah pasokan minyak global dan memberikan tekanan pada harga minyak dalam jangka panjang.

Penangkapan Maduro dilakukan oleh pasukan AS di Caracas. Presiden AS Donald Trump secara tegas menyatakan bahwa Washington akan mengambil alih kendali atas negara penghasil minyak tersebut. Meski demikian, Trump juga menegaskan embargo AS terhadap seluruh minyak Venezuela tetap diberlakukan sepenuhnya.

Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id

Cadangan Besar, Produksi Tertekan

Venezuela, sebagai anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), memiliki cadangan minyak global yang sangat besar, mencapai sekitar 17 persen atau sekitar 303 miliar barel. Jumlah ini bahkan melampaui cadangan milik Arab Saudi, menurut data dari Energy Institute yang berbasis di London, Inggris. Namun, Mureks mencatat bahwa kapasitas produksi minyak Venezuela telah menyusut drastis dalam beberapa dekade terakhir.

Pada era 1970-an, produksi minyak mentah Venezuela sempat mencapai puncaknya hingga 3,5 juta barel per hari (bph), menyumbang lebih dari 7 persen dari total produksi minyak global saat itu. Namun, memasuki dekade 2010-an, angka produksi anjlok di bawah 2 juta bph. Tahun lalu, produksi rata-rata Venezuela hanya sekitar 1,1 juta bph, atau sekitar 1 persen dari total produksi global. Saat ini, produksi diperkirakan berada di kisaran 800.000 bph.

Proyeksi Pemulihan Bertahap dari JPMorgan dan Goldman Sachs

Tim analis JPMorgan, yang dipimpin oleh Natasha Kaneva, menilai transisi politik pasca-penangkapan Maduro berpotensi membuka jalan bagi peningkatan produksi. Dalam catatan mereka, JPMorgan memperkirakan produksi minyak Venezuela dapat naik menjadi 1,3 hingga 1,4 juta bph dalam dua tahun ke depan. Bahkan, produksi berpotensi mencapai 2,5 juta bph dalam satu dekade berikutnya, dengan asumsi stabilisasi politik dan masuknya kembali investasi di sektor hulu migas Venezuela.

Para analis JPMorgan juga menambahkan, “Dinamika ini saat ini tidak tercermin dalam kurva harga minyak berjangka.”

Pandangan serupa disampaikan oleh tim analis Goldman Sachs yang dipimpin Daan Struyven. Mereka menekankan bahwa pemulihan produksi minyak Venezuela akan membutuhkan investasi besar-besaran.

Mureks