Keuangan

Harga Minyak Dunia Tertekan Aksi AS di Venezuela, Brent Bertahan di Level US$60

Harga minyak dunia menunjukkan penguatan tipis pada Kamis (8/1/2026) pagi, namun secara keseluruhan masih berada dalam posisi tertekan dibandingkan harga pada bulan Desember tahun sebelumnya. Tekanan ini utamanya bersumber dari langkah-langkah agresif Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela.

Berdasarkan pantauan Refinitiv pukul 09.55 WIB, minyak Brent (LCOc1) tercatat di US$60,18 per barel, naik tipis dari US$59,96 sehari sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) (CLc1) berada di US$56,20 per barel, menguat dari US$55,99 pada Rabu (7/1/2026).

Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id

Meskipun terjadi kenaikan harian, posisi harga ini jauh lebih rendah dibanding akhir Desember 2025. Mureks mencatat bahwa Brent sempat menyentuh US$62,38 per barel pada 23 Desember 2025, sebelum terus tergerus mendekati level US$60 dalam dua pekan terakhir. WTI juga bergerak searah, turun dari US$58,38 ke kisaran US$56 pada periode yang sama, mencerminkan sentimen tekanan pasokan global.

Tekanan tersebut berasal dari kebijakan Washington di kawasan Amerika Latin. Pemerintah AS baru-baru ini menyita dua kapal tanker yang mengangkut minyak terkait Venezuela, salah satunya berbendera Rusia. Aksi ini merupakan bagian dari perluasan blokade terhadap ekspor energi Caracas.

Operasi penyitaan kapal tanker ini dilakukan setelah Washington sebelumnya menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Maduro dituduh terlibat dalam kejahatan narkotika dan menjadi target utama kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump.

Dari sudut pandang pasar minyak, yang menjadi perhatian utama pelaku pasar bukan hanya drama militer, melainkan sinyal bahwa pasokan minyak Venezuela justru akan dibuka lebih lebar ke pasar global. Gedung Putih menyatakan akan melonggarkan sebagian sanksi minyak Venezuela dan bahkan berencana menjual hingga 50 juta barel minyak mentah Venezuela yang selama ini terjebak sanksi.

Presiden Donald Trump secara terbuka menyebut, “minyak Venezuela akan diproses dan dijual oleh Amerika Serikat, lalu hasilnya digunakan untuk membeli produk AS.” Skema ini berpotensi mengembalikan jutaan barel minyak yang sebelumnya terkunci ke rantai pasok global, memperbesar suplai di saat permintaan dunia belum menunjukkan lonjakan signifikan.

Di sisi lain, AS juga berupaya mengalihkan aliran minyak Venezuela yang selama ini menuju Tiongkok. Beijing, sebagai pembeli utama minyak Venezuela, mengecam langkah Washington sebagai bentuk “perundungan.”

Bagi pasar, konflik politik ini diterjemahkan sebagai satu hal: risiko banjir pasokan minyak tambahan dalam beberapa bulan ke depan. Sentimen inilah yang menekan harga, meskipun ketegangan geopolitik justru meningkat. Biasanya, ketegangan militer cenderung mengangkat harga minyak, namun dalam kasus ini, pasar membaca arah kebijakan Trump sebagai pro-produksi dan pro-distribusi.

Ketersediaan minyak Venezuela yang kembali dibuka, ditambah tekanan terhadap armada “shadow fleet” yang selama ini membantu Venezuela menghindari sanksi, membuat risiko gangguan suplai justru menurun. Dengan latar belakang ini, reli kecil yang terjadi pagi ini lebih terlihat sebagai koreksi teknikal ketimbang pembalikan tren harga minyak.

Mureks