TOKYO – Pasar keuangan Asia menunjukkan respons signifikan pada Senin (5/1/2026), menyusul kabar penggulingan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat. Harga emas dan indeks saham di kawasan Asia menguat, sementara harga minyak mentah berhasil bangkit dari posisi terendah sebelumnya, seiring investor mencermati dampak geopolitik yang terjadi.
Pasukan Amerika Serikat dilaporkan menyerbu Caracas pada Sabtu pagi, melancarkan serangan bom terhadap target militer dan menahan Maduro beserta istrinya. Keduanya akan menghadapi dakwaan perdagangan narkoba federal di New York.
Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Venezuela, yang dikenal memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, menjadi sorotan utama. Kekhawatiran akan potensi peningkatan pasokan minyak mentah Venezuela di pasar global dapat memperburuk kondisi kelebihan pasokan dan menambah tekanan pada harga minyak yang telah terjadi belakangan ini.
Meskipun sempat berada di wilayah negatif pada awal perdagangan di Asia, harga minyak mentah Brent naik 0,28 persen menjadi 60,92 dolar AS per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,16 persen menjadi 57,41 dolar AS per barel.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat kini akan “mengelola” Venezuela dan akan mengirim perusahaan-perusahaan AS untuk memperbaiki infrastruktur minyak negara tersebut yang rusak parah. Namun, para analis menilai bahwa peningkatan produksi minyak secara substansial tidak akan mudah, cepat, atau murah, di samping pertanyaan besar lainnya mengenai masa depan negara Amerika Selatan itu.
Setelah bertahun-tahun mengalami kurangnya investasi dan sanksi, Venezuela saat ini hanya memproduksi sekitar satu juta barel per hari, jauh menurun dari sekitar 3,5 juta barel per hari pada tahun 1999. “Pemulihan produksi apa pun akan membutuhkan investasi besar mengingat infrastruktur yang runtuh akibat bertahun-tahun salah urus dan kurangnya investasi,” kata analis UBS, Giovanni Staunovo, kepada AFP. Mureks mencatat bahwa pandangan ini sejalan dengan tantangan besar yang dihadapi Venezuela.
Investasi di sektor minyak Venezuela saat ini juga dinilai kurang menarik. Harga minyak global masih tertekan oleh kelebihan pasokan dan telah mengalami penurunan sepanjang tahun 2025, meskipun ada hambatan pertumbuhan signifikan seperti perang tarif yang dipicu Trump dan konflik yang masih berlangsung di Ukraina.
Di sisi lain, bursa saham Asia mencatatkan kenaikan awal yang kuat, melanjutkan tren positif tahun lalu yang didorong oleh minat tinggi terhadap saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI). Menurut pantauan Mureks, sektor teknologi menjadi pendorong utama penguatan ini.
Indeks Nikkei Tokyo melonjak 2,36 persen menjadi 51.527,09 poin, dengan saham perusahaan teknologi SoftBank naik sekitar empat persen dan produsen peralatan chip Tokyo Electron menguat lima persen. Indeks Kospi Korea Selatan juga naik 2,53 persen menjadi 4.418,67 poin, di mana SK Hynix naik lebih dari tiga persen dan Samsung Electronics melonjak 4,6 persen.
Emas, yang sering dianggap sebagai investasi safe-haven, juga mengalami kenaikan signifikan sebesar 1,28 persen menjadi 4.388 dolar AS per ons.
“Valuasi tetap berada di sekitar level yang hanya dilampaui oleh gelembung Dot.com, sementara alokasi ke ekuitas berada pada level yang tinggi dan alokasi ke kas berada pada sisi yang rendah,” ujar Kyle Rodda dari Capital.com.






