Tren

Misteri Berat Badan Naik Walau Diet Sehat: Hormon Kortisol Jadi Kunci yang Sering Terlupakan

Banyak individu merasa bingung ketika berat badan mereka terus meningkat, meskipun telah disiplin menjalani pola makan sehat. Fenomena ini kerap menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas diet atau kondisi tubuh yang mungkin bermasalah. Namun, menurut para ahli, salah satu penyebab utama yang sering terabaikan adalah kadar hormon kortisol dalam tubuh yang tidak terkontrol.

Dr. Vishal Khurana, Direktur Gastroenterologi di Metro Hospital, menjelaskan bahwa kortisol yang terus-menerus tinggi menjadi biang kerok di balik kegagalan penurunan berat badan. “Sudah makan dengan ‘benar’ tapi berat badan tetap naik memang membingungkan. Namun, pada banyak orang, penyebabnya adalah kortisol yang terus-menerus tinggi. Pendekatan ‘anti-kortisol’ yang seimbang bukan soal diet tren, melainkan kebiasaan makan dan gaya hidup yang membantu menenangkan sistem stres, sehingga tubuh akhirnya bisa merespons pola makan sehat dengan baik,” ujarnya, dikutip pada Sabtu, 10 Januari 2026.

Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Mengenal Hormon Kortisol dan Dampaknya

Kortisol dikenal luas sebagai hormon stres. Hormon ini diproduksi oleh kelenjar adrenal sebagai respons alami tubuh terhadap tekanan. Kortisol memiliki ritme harian, dengan kadar yang cenderung lebih tinggi di pagi hari dan menurun pada malam hari. Peran kortisol sangat vital dalam berbagai proses fisiologis tubuh, mulai dari metabolisme hingga respons imun.

Namun, jika kadar kortisol meningkat dan bertahan tinggi dalam jangka waktu lama, kondisi ini dapat memicu berbagai dampak negatif. Salah satunya adalah Sindrom Cushing, yang secara signifikan memengaruhi metabolisme tubuh, menyebabkan intoleransi glukosa, dan memicu penumpukan lemak, terutama di area tengah tubuh. Sebaliknya, National Library of Medicine mencatat bahwa kadar kortisol yang terlalu rendah justru dapat menimbulkan kelelahan ekstrem, tekanan darah rendah, penurunan berat badan yang tidak diinginkan, serta hiperpigmentasi kulit.

Pemicu Peningkatan Kadar Kortisol

Peningkatan kadar hormon kortisol tidak terjadi begitu saja. catatan Mureks menunjukkan, hal ini dapat dipicu oleh kombinasi perubahan gaya hidup, pola makan, dan kondisi medis tertentu. Penting untuk mengenali tanda-tanda terkait perubahan kadar hormon ini agar dapat menerapkan pola makan dan gaya hidup anti-kortisol yang efektif.

  • Stres Kronis: Sering merasa overthinking hampir sepanjang hari dapat menjadi pemicu utama peningkatan kortisol. Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism melaporkan bahwa stres fisiologis berkepanjangan mengaktifkan sumbu HPA (Hipotalamus-Pituitari-Adrenal) secara terus-menerus, yang berujung pada produksi kortisol berlebihan.
  • Kurang Tidur: Kualitas dan kuantitas tidur yang tidak memadai atau sering terganggu juga dapat menyebabkan pelepasan kortisol yang tidak normal. Jurnal ilmiah Endocrine Reviews secara spesifik menyoroti hubungan antara gangguan tidur dan disregulasi hormon stres ini.
  • Penggunaan Obat Glukokortikoid Jangka Panjang: Pemakaian obat jenis glukokortikoid dalam waktu lama diketahui dapat meningkatkan produksi kortisol dalam tubuh. Sejumlah penelitian yang dipublikasikan di The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism telah mencatat efek samping ini.

Dengan memahami penyebab dan dampak kortisol, individu dapat mengambil langkah-langkah proaktif untuk menenangkan sistem stres tubuh, sehingga pola makan sehat yang dijalani dapat memberikan hasil optimal dalam pengelolaan berat badan.

Mureks