Tahun 2026 menjadi penanda istimewa bagi para penikmat musik rock dan metal di seluruh dunia. Sejumlah album legendaris yang pertama kali dirilis pada 1986 kini genap berusia 40 tahun, menandai empat dekade perjalanan karya-karya yang tidak hanya membentuk identitas genre, tetapi juga mengubah arah industri musik global secara signifikan. Periode 1986 memang kerap disebut sebagai salah satu era keemasan dalam sejarah musik keras.
Di satu sisi, skena thrash metal mencapai puncak kreativitasnya dengan rilisan-rilisan monumental. Di sisi lain, hair metal dan hard rock mulai menembus radio arus utama serta pasar komersial secara masif. Perpaduan dua arus besar inilah yang menjadikan rilisan tahun tersebut begitu beragam dan berpengaruh hingga saat ini, bahkan menurut catatan media musik Loudwire, setidaknya 31 album rock dan metal dari tahun itu kini dikenang sebagai tonggak sejarah.
Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Ledakan Thrash Metal yang Tak Tergantikan
Ketika membicarakan album rock dan metal dari tahun 1986, mustahil mengabaikan ledakan thrash metal yang terjadi. Metallica merilis Master of Puppets, sebuah album yang hingga kini sering disebut sebagai mahakarya thrash metal. Karya ini tidak hanya menampilkan komposisi yang kompleks dan agresif, tetapi juga menjadi album metal pertama yang diarsipkan oleh Library of Congress Amerika Serikat karena nilai budayanya yang tinggi.
Tak kalah berpengaruh, Megadeth hadir dengan Peace Sells… But Who’s Buying?. Album ini menunjukkan kedewasaan musikal Dave Mustaine dan bandnya, sekaligus memperkuat posisi Megadeth sebagai salah satu pilar “Big Four” thrash metal, sejajar dengan Metallica, Slayer, dan Anthrax. Sementara itu, Slayer merilis Reign in Blood, sebuah album dengan durasi singkat namun intensitas ekstrem yang diproduseri oleh Rick Rubin. Album ini sering disebut sebagai standar emas thrash metal yang cepat dan brutal.
Bersama Master of Puppets dan Peace Sells, Reign in Blood menjadi simbol dominasi thrash metal pada 1986. Nama-nama lain seperti Kreator lewat Pleasure to Kill, Dark Angel dengan Darkness Descends, serta Flotsam and Jetsam melalui Doomsday for the Deceiver juga turut memperkaya lanskap musik keras tahun tersebut, bahkan mendorong batas genre hingga mendekati death metal.
Dominasi Hard Rock dan Hair Metal di Arus Utama
Di sisi yang lebih melodis dan komersial, 1986 juga menjadi tahun penting bagi kebangkitan hair metal. Bon Jovi mencetak kesuksesan masif lewat Slippery When Wet, sebuah album yang melahirkan lagu-lagu ikonik seperti “Livin’ on a Prayer” dan “You Give Love a Bad Name”. Album ini tidak hanya mendominasi tangga lagu, tetapi juga membuka pintu bagi band-band glam metal untuk masuk ke radio dan MTV.
Kesuksesan serupa diraih Poison dengan album debut Look What the Cat Dragged In, serta Cinderella lewat Night Songs. Ketiga band ini menjadi wajah baru hard rock glam yang mendominasi akhir 1980-an, terutama di Amerika Serikat. Dari Eropa, band Europe mencuri perhatian dunia lewat The Final Countdown. Lagu berjudul sama menjadi anthem global dan menjadikan album tersebut sebagai titik puncak karier mereka di pasar internasional.
Karya Penting dari Ikon Rock Lainnya
Selain metal dan glam rock, 1986 juga menghadirkan album penting dari band dan musisi rock papan atas. Van Halen merilis 5150, album pertama mereka bersama vokalis Sammy Hagar, yang langsung menempati posisi puncak tangga lagu dan membuktikan transisi formasi mereka sukses secara komersial. Iron Maiden bereksperimen dengan pendekatan baru lewat Somewhere in Time, album pertama mereka yang menggunakan gitar synthesizer.
Sementara itu, Judas Priest mengambil jalur lebih ramah radio melalui Turbo, sebuah langkah yang kala itu memicu perdebatan di kalangan penggemar metal. Di luar ranah metal, nama-nama besar seperti Peter Gabriel dengan So, Genesis lewat Invisible Touch, Boston melalui Third Stage, hingga Journey dengan Raised on Radio menunjukkan bahwa 1986 adalah tahun yang subur untuk musik rock lintas gaya. Mureks merangkum, keragaman ini menjadi bukti betapa dinamisnya industri musik pada era tersebut.
Warisan Abadi Empat Dekade
Empat puluh tahun setelah dirilis, album-album dari 1986 ini masih terus didengarkan, dibahas, dan dirayakan. Banyak di antaranya menjadi referensi utama bagi musisi generasi baru, sementara lagu-lagunya tetap hidup melalui konser, rilisan ulang, hingga platform streaming digital. Bagi penggemar lama, perayaan 40 tahun album-album ini menjadi nostalgia akan era keemasan musik rock dan metal. Sementara bagi pendengar baru, momen ini adalah pengingat bahwa fondasi musik keras modern dibangun oleh karya-karya legendaris yang lahir hampir setengah abad lalu.






