Olahraga

Merajut Asa ‘Macan Asia’ di Asian Games 2026: Mampukah Indonesia Lampaui Prestasi SEA Games 2025?

Kepingan-kepingan emas yang diraih Indonesia dalam SEA Games 2025 telah usai. Kini, pertanyaan besar muncul: apakah capaian gemilang tersebut menjadi pertanda sukses Indonesia di Asian Games 2026 mendatang?

Kerja keras para atlet dalam ‘penambangan emas’ di ajang internasional ini kerap mendapat dukungan luas, berbeda dengan sorotan negatif pada aktivitas penambangan lain. Setiap medali yang diraih selalu berujung pada pengibaran bendera Merah Putih dan lantunan lagu Indonesia Raya yang heroik, seperti yang disaksikan di SEA Games 2025.

Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.

Dari Thailand pada pertengahan Desember lalu, Indonesia berhasil mencatatkan prestasi membanggakan. Medali perdana disumbangkan oleh atlet balap sepeda Rendy Varera Sanjaya, diikuti emas pertama dari trio taekwondoin Muhammad Alfi Kusuma, Muhammad Hafizh Fachrur Rhozi, dan Muhammad Rizal. Kebanggaan terus berlanjut hingga medali terakhir dari tim sepak takraw putri.

Dengan perolehan 91 emas, 112 perak, dan 130 perunggu, Indonesia menempati peringkat kedua. Meski bukan juara umum, capaian ini tergolong luar biasa.

Ini adalah kali pertama Indonesia kembali menduduki posisi dua besar setelah menjadi juara SEA Games pada 2011. Lebih jauh lagi, Mureks mencatat bahwa ini merupakan posisi kedua pertama bagi Indonesia saat berstatus sebagai tamu, setelah terakhir kali terjadi pada 1995.

Jumlah 91 emas juga menunjukkan peningkatan signifikan dibanding SEA Games dalam satu dekade terakhir, sekaligus menjadi torehan kedua terbanyak saat tidak menjadi tuan rumah.

Sinyal Positif dan Tantangan Menuju Asian Games 2026

Sinyal positif datang dari cabang olahraga andalan seperti panahan, wushu, panjat tebing, pencak silat, bulutangkis, dan dragon boat. Yang lebih menggembirakan, atletik, triathlon, menembak, serta bela diri seperti judo, karate, dan taekwondo turut menjadi tulang punggung. Kejutan emas juga hadir dari futsal, hoki es, kabaddi, dan petanque.

Namun, ada pula kabar kurang mengenakkan dari cabang voli dan sepak bola. ‘Yah namanya juga olahraga, ada kalah ada menang,’ begitu seloroh nasib dalam arena sport.

Lantas, menjelang Asian Games 2026, langkah apa yang harus diambil agar Indonesia dapat merasakan manisnya kemenangan di kancah yang lebih tinggi?

Jargon ‘macan Asia’ kembali populer berkat teriakan Presiden Prabowo Subianto. Apakah Indonesia benar-benar bisa menjadi macan Asia di ajang Asian Games?

Indonesia memiliki sejarah panjang sebagai salah satu dari tujuh negara yang selalu berpartisipasi di Asian Games sejak pertama kali digelar 1951. Namun, perolehan medali tergolong minim.

Prestasi terbaik adalah peringkat kedua pada Asian Games 1962 dan perolehan emas terbanyak (31 keping) pada Asian Games 2018. Patut dicatat, kedua edisi tersebut Indonesia berstatus sebagai tuan rumah.

Dua catatan impresif tersebut akan sulit terulang pada Asian Games 2026 yang akan berlangsung pada September – Oktober tahun depan di Jepang. Menjadikan Indonesia ‘macan Asia’ bukan mission impossible, tetapi mustahil untuk tiba-tiba melangkahi dominasi Tiongkok atau menyaingi Jepang dan Korea Selatan dalam waktu dekat.

Pencak silat, yang merupakan ‘tambang emas’ Indonesia, tidak dipertandingkan di Asian Games edisi ke-20 mendatang. Terbukti, tanpa pencak silat di Asian Games 2022, perolehan medali Indonesia merosot tajam dibanding empat tahun sebelumnya.

Sementara itu, bulutangkis dan balap sepeda road race, yang menyumbang mayoritas medali pada Asian Games 1962, telah mengalami perubahan peta kekuatan. Indonesia bahkan gagal membawa pulang medali dari bulutangkis pada Asian Games 2022, dan sudah lama tidak meraih medali di lintasan sepeda road race.

Tim bulutangkis putra Indonesia yang merebut emas beregu di SEA Games 2025 akan menghadapi tantangan lebih berat di Asian Games 2026, kendati ada potensi perubahan skuad.

Peluang dan Strategi Meraih Prestasi

Apakah sama sekali tidak ada peluang bagi Indonesia untuk berjaya di Asian Games? Tergantung pada definisi ‘berjaya’ yang dimaksud.

Jika SEA Games 2025 dianggap berhasil karena Indonesia kembali ke peringkat kedua dan mencetak rekor kedua terbanyak medali emas sebagai tamu, maka target spesifik harus dicanangkan untuk Asian Games 2026.

Target menembus posisi 10 besar atau meraih lebih dari sembilan emas, misalnya. Perlu diketahui, Indonesia belum pernah masuk zona 10 besar sebagai tamu sejak Asian Games 1994. Sementara emas double digit hanya dibukukan saat menjadi tuan rumah pada 1962 dan 2018.

Tim Indonesia harus memetakan kekuatan menuju Asian Games 2026 yang tidak memasukkan pencak silat dan dragon boat, dua cabor potensial bagi atlet Garuda. Dengan demikian, cabang-cabang olahraga tulang punggung seperti angkat besi, wushu, dan panjat tebing harus dimaksimalkan.

Asian Games juga bisa menjadi panggung bagi atlet-atlet Indonesia untuk memulihkan nama besar di bulutangkis, tenis, atau sepak takraw. Dari SEA Games 2025, atletik dan triathlon menunjukkan capaian baik, namun persaingan di level Asia tentu berbeda.

Menembak, panahan, serta olahraga bela diri lainnya juga berpotensi menghadirkan kabar bahagia.

Patut dicatat dan direnungkan, baik di cabor unggulan maupun yang diprediksi bisa jadi kejutan, medali tidak akan datang dengan sendirinya. Ada ‘ritual’ untuk mendatangkan kepingan berkilau: niat, tekad, ambisi, serta kerja nyata seluruh elemen.

Atlet tidak bisa berjuang sendiri, atau pelatih berkoar-koar sampai berbusa. Semua punya porsi masing-masing dalam sebuah payung kerja sama. Ada proses dalam mencapai prestasi, butuh waktu demi mendapat buah yang manis. Hukumnya sudah begitu dari dulu. Hanya saja, satu masalah yang sering terjadi, negara ini acap kali lupa bagaimana merawat prestasi olahraga.

Mureks