Hiburan

Menjelajahi Sinema 2026: Deretan Film Non-Horor Indonesia Siap Guncang Layar Lebar Global

Tahun 2026 diprediksi menjadi periode krusial bagi industri perfilman Indonesia. Deretan karya yang akan tayang menunjukkan keberanian para sineas Tanah Air dalam mengeksplorasi beragam tema, mulai dari isu sosial, sejarah, kemanusiaan, hingga fiksi futuristik, dengan pendekatan yang semakin matang. Menurut pantauan Mureks, dominasi genre tidak lagi bertumpu pada horor semata. Film-film non-horor kini hadir dengan kualitas artistik tinggi, mengangkat isu-isu relevan, serta memiliki potensi besar untuk menembus pasar festival internasional maupun menjangkau penonton arus utama.

Dengan keterlibatan sutradara papan atas dan aktor lintas generasi, film-film Indonesia yang dijadwalkan tayang pada 2026 ini menjadi bukti nyata bahwa industri nasional sedang bergerak menuju fase yang lebih beragam, berani, dan berkelas.

Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id

Para Perasuk

Film Para Perasuk menjadi salah satu karya Indonesia yang paling mencuri perhatian sejak diumumkan lolos ke Sundance Film Festival 2026. Disutradarai oleh Wregas Bhanuteja, film ini kembali menegaskan ciri khas sang sineas dalam mengolah realitas sosial Indonesia melalui sudut pandang yang berani, satir, dan penuh ironi.

Cerita Para Perasuk berpusat pada sebuah desa yang menjadikan fenomena kesurupan sebagai komoditas wisata dan ekonomi. Narasi ini membuka ruang diskusi tentang bagaimana tradisi, kepercayaan, dan budaya dapat dieksploitasi demi ambisi serta status sosial. Alih-alih menampilkan kesurupan sebagai fenomena mistis semata, Wregas justru menggunakannya sebagai metafora tentang kerakusan, pencitraan, dan relasi kuasa di masyarakat. Ia memadukan humor gelap, absurditas, dan kritik sosial dengan cara yang kontekstual serta relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Kehadiran Angga Yunanda, Maudy Ayunda, dan Chicco Kurniawan semakin memperkuat ekspektasi bahwa film ini tidak hanya kuat secara ide, tetapi juga matang dalam akting dan eksekusi visual.

Empat Musim Pertiwi

Melalui Empat Musim Pertiwi, Kamila Andini kembali ke akar sinemanya yang intim, puitis, dan sarat emosi. Film ini mengisahkan perjalanan seorang perempuan penyintas kekerasan seksual yang baru saja bebas dari penjara dan kembali ke desanya untuk memulai hidup baru. Namun, kepulangan ke rumah tidak serta-merta menjadi jawaban atas luka batin yang ia bawa.

Film ini menyoroti trauma, stigma sosial, serta proses pemulihan diri dengan pendekatan yang lembut namun menggugah. Relasi keluarga, masyarakat desa, dan alam sekitar menjadi ruang konflik sekaligus penyembuhan. Dengan Putri Marino dan Christine Hakim sebagai pemeran utama, Empat Musim Pertiwi diprediksi menghadirkan akting yang subtil, emosional, dan berlapis, menjadikannya salah satu drama Indonesia paling kuat di tahun 2026.

Perkasa Seperti Air

Perkasa Seperti Air menandai langkah baru Joko Anwar di luar zona horor yang selama ini melekat pada namanya. Film ini mengusung genre drama coming of age dengan sudut pandang anak berusia sepuluh tahun, menghadirkan kisah tentang tumbuh dewasa di tengah keterbatasan dan tantangan hidup.

Pendekatan naratif yang sederhana namun penuh makna memungkinkan penonton menyelami dunia anak dengan empati dan kejujuran emosional. Tanpa sensasi berlebihan, film ini diyakini akan mengandalkan kekuatan cerita, keheningan, dan detail-detail kecil yang menyentuh. Perkasa Seperti Air berpotensi menjadi film reflektif yang meninggalkan kesan mendalam tentang ketahanan, harapan, dan arti kekuatan sejati.

Mureks