Lifestyle

Mengungkap Makna Rezeki Berkah: Mengapa Gaji Cepat Habis Bukan Sekadar Masalah Nominal

Fenomena gaji yang terasa cepat habis, bahkan ketika secara nominal dianggap mencukupi kebutuhan sehari-hari, seringkali memicu pertanyaan mendalam di benak banyak orang. Kondisi ini kerap menimbulkan keraguan, apakah pendapatan yang diperoleh setiap bulan tersebut merupakan tanda rezeki yang kurang berkah?

Untuk menjawab kegelisahan tersebut, penting untuk memahami konsep rezeki berkah dalam perspektif Islam. Menurut Daffa Ichyaul Majid Sarja dari detikHikmah, pertanyaan ini relevan untuk dikaji, terutama dengan melihat ciri-ciri rezeki yang berkah dan dampak dari rezeki yang tidak berkah.

Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id

Memahami Rezeki dan Keberkahannya

Dalam buku Setetes Embun Hikmah karya Muhammad Arham, rezeki didefinisikan secara luas, mencakup harta, uang, kesehatan, kebahagiaan, serta segala hal yang menopang kelangsungan hidup. Namun, Arham menegaskan bahwa jumlah rezeki yang banyak tidak serta-merta menjamin keberkahannya.

Rezeki yang berkah memiliki makna yang lebih dalam, yaitu rezeki yang membawa kebaikan bagi pemiliknya dan juga orang lain. Bisa jadi, seseorang menerima rezeki berlimpah, namun tanpa keberkahan, harta tersebut akan habis begitu saja tanpa memberikan manfaat yang berarti. Oleh karena itu, rezeki yang berkah pasti mengandung kebaikan, sementara rezeki yang banyak belum tentu identik dengan keberkahan.

Jika gaji bulanan selalu habis tanpa disadari, hal ini bisa menjadi indikasi bahwa rezeki yang diperoleh kurang berkah. Mureks merangkum, keberkahan rezeki dapat diidentifikasi melalui beberapa ciri utama.

Ciri-ciri Rezeki yang Berkah

  1. Diperoleh dengan Cara yang Halal

    Setiap rezeki yang ditakdirkan Allah SWT dapat diraih melalui usaha dan kerja keras. Rezeki yang diperoleh dengan cara yang baik dan sesuai syariat Islam akan menjadi halal. Sebaliknya, jika didapatkan dengan cara yang tidak baik, maka rezeki tersebut tergolong haram. Hal ini selaras dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surah An-Najm ayat 39-41:

    وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ ٣٩ وَاَنَّ سَعْيَهٗ سَوْفَ يُرٰىۖ ٤٠ ثُمَّ يُجْزٰىهُ الْجَزَاۤءَ الْاَوْفٰىۙ ٤١

    Artinya: “Bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya. Bahwa sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian dia akan diberi balasan atas (amalnya) itu dengan balasan yang paling sempurna.”

  2. Mendatangkan Kebaikan

    Rezeki yang berkah, meskipun jumlahnya mungkin tidak terlalu besar, akan senantiasa dirasakan manfaatnya. Contohnya, gaji yang cukup untuk menafkahi keluarga dan berkesempatan untuk bersedekah. Sebaliknya, harta berlimpah yang tidak digunakan untuk hal bermanfaat justru bisa menjadi sumber penyakit lahir dan batin, membuat pemiliknya pelit, serta enggan memanfaatkannya untuk kepentingan agama dan masyarakat.

  3. Diimbangi Ibadah dan Tawakal

    Keberkahan rezeki akan semakin berlimpah apabila diimbangi dengan ibadah, doa, dzikir, dan tawakal kepada Allah SWT.

  4. Digunakan di Jalan Allah SWT

    Rezeki yang dimanfaatkan di jalan Allah SWT adalah tanda nyata keberkahan. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 261:

    مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

    Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.”

Dampak Rezeki yang Tidak Berkah

Rezeki yang tidak berkah atau haram dapat membawa konsekuensi serius baik di dunia maupun di akhirat. Menurut catatan Mureks dari buku Halal Haram Dalam Berumah Tangga: Amalan Berpahala yang Mengandung Rezeki dan Perbuatan Dosa yang Menjauhkan Rezeki karya Nala Karim al-Hammad, berikut adalah beberapa dampaknya:

  1. Menjadi Penghalang Terkabulnya Doa

    Salah satu nikmat terbesar bagi seorang muslim adalah terkabulnya doa. Namun, rezeki yang haram dapat menjadi penghalang utama terkabulnya setiap doa yang dipanjatkan.

  2. Rezeki Haram Akan Menghilangkan Berkah

    Imam Al-Baghawy menjelaskan bahwa berkah adalah adanya nilai kebaikan dalam sesuatu. Rezeki yang diinginkan dalam Islam adalah yang bertambah dan mengandung kebaikan. Jika rezeki membuat seseorang tekun beribadah, ringan berbuat kebaikan, serta menyenangkan orang lain, itulah tanda rezeki berkah, terlepas dari jumlahnya. Hilangnya keberkahan ini seringkali bersumber dari konsumsi makanan yang dibeli dengan harta haram. Rasulullah SAW bersabda:

    كُلُّ جَسَدٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ. رواه الحاكم والبيهقي وصححه الألباني.

    Artinya: “Setiap jasad yang tumbuh dari harta haram, maka nerakalah yang lebih tepat menjadi tempatnya.” (HR Al-Hakim dan Al-Baihaqi)

  3. Harta Haram Jadi Bara Neraka

    Rasulullah SAW pernah mengadili persengketaan dua orang dan bersabda:

    إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ وَإِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَى وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَنْ يَكُونَ أَلْحَنَ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ فَأَقْضِي نَحْوَ مَا أَسْمَعُ فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ بِحَقِّ أَخِيهِ شَيْئًا فَلَا يَأْخُذُهُ فَإِنَّمَا أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنَ النَّارِ. متفق عليه.

    Artinya: “Sesungguhnya aku adalah manusia biasa, sedangkan kalian berdua membawa persengketaan kalian kepadaku. Mungkin saja salah seorang dari kalian lebih lihai dalam membawakan alasannya dibanding lawannya, sehingga aku pun memutuskan berdasarkan apa yang aku dengar dari kalian. Maka barang siapa yang sebagian hak saudaranya aku putuskan untuknya, maka hendaknya ia tidak mengambil hak itu; karena sesungguhnya aku telah memotongkan untuknya sebongkah bara api neraka.”

    Hadits ini, yang dijelaskan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani, menggambarkan betapa pedihnya siksa neraka bagi mereka yang merampas hak orang lain melalui jalur hukum. Mengambil hak orang lain sama dengan menduduki sebongkah bara api neraka.

  4. Harta Haram Jadi Penyebab Kehancuran

    Harta yang diperoleh secara haram cenderung tidak bertahan lama dan dapat lenyap seketika akibat bencana atau sebab tak terduga lainnya. Rasulullah SAW bersabda:

    لَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَوْنَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا. رواه ابن ماجة والحاكم والبيهقي وحسنه الألباني

    Artinya: “Tidaklah mereka berbuat curang dalam hal takaran dan timbangan melainkan mereka akan ditimpa paceklik, biaya hidup mahal, dan perilaku jahat para penguasa. Dan tidaklah mereka enggan untuk membayar zakat harta mereka, melainkan mereka akan dihalangi dari mendapatkan air hujan dari langit, andailah bukan karena binatang ternak, niscaya mereka tidak akan diberi hujan.” (HR Ibnu Majah, Al-Hakim, Al-Baihaqi)

Memahami ciri-ciri dan dampak ini menjadi pengingat penting bagi setiap muslim untuk senantiasa mencari rezeki yang halal dan berkah, demi kebaikan di dunia dan akhirat.

Mureks