Nasional

Melampaui Batas Ruang dan Waktu: Isra Mikraj sebagai Guru Besar Ilmu Pengetahuan

Perjalanan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW, sebuah mukjizat agung, tak hanya menjadi penanda keimanan, namun juga menawarkan pelajaran mendalam tentang ilmu pengetahuan dan manajemen waktu. Dosen Program Pascasarjana, Asep Abdurrohman, menyoroti peristiwa ini sebagai titik sentral pengembangan keilmuan berbasis profetik, yang ia ibaratkan sebagai ‘Guru Besar’ bagi IPTEK.

Salah satu aspek paling menakjubkan dari Isra Mikraj adalah ketika Nabi Muhammad SAW menjadi imam salat bagi para Nabi dan Rasul yang telah lama wafat di Masjid al-Aqsa. Secara kasat mata, kejadian ini mustahil. Namun, menurut Asep, kondisi tersebut menjelaskan bahwa peristiwa itu mengulang waktu yang sudah lama terjadi, menegaskan bahwa ruang dan waktu tak lagi menjadi batasan bagi titah pengatur alam.

Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id

Melampaui Dimensi Waktu: Dulu, Sekarang, dan Akan Datang

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia terikat pada tiga dimensi waktu: dulu, sekarang, dan akan datang. Masa lalu, meskipun baru berlalu semenit, tak mungkin terulang. Masa sekarang adalah waktu yang sedang dijalani, dan bagaimana ia dikelola akan sangat menentukan masa depan. Sementara itu, masa depan masih menjadi misteri bagi hampir semua orang.

Prinsip ‘hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari sekarang’ menjadi landasan pengelolaan waktu. Secara tersirat, kehendak Tuhan dalam Al-Qur’an telah mengatur waktu dengan menetapkan jumlah bulan sebanyak 12, di mana empat di antaranya menjadi fokus kehidupan manusia: Zulqo’dah, Zulhijjah, al-Muharram, dan Rajab.

Struktur waktu ini terus berlanjut hingga penetapan jumlah pekan dalam sebulan, hari dalam sepekan (tujuh hari), jam dalam sehari, menit dalam sejam, hingga detik dalam semenit. Fakta yang sudah ditetapkan ini, catatan Mureks menunjukkan, memberi pesan penting kepada manusia bahwa hidup harus teratur seperti waktu yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Pencarian Ilmu: Antara Kaidah Formal dan Ajaran Agama

Turunan waktu dalam lembaga pendidikan formal juga membuktikan adanya penetapan durasi mencari ilmu. Pemerintah menetapkan:

  • Sekolah Dasar: enam tahun
  • Sekolah Menengah Pertama: tiga tahun
  • Sekolah Menengah Atas: tiga tahun
  • Strata 1: empat tahun
  • Strata 2: minimal dua tahun
  • Strata 3: minimal tiga tahun

Namun, kaidah agama membantah habis batasan waktu ini. Agama mengajarkan bahwa mencari ilmu itu, “mulai dari lahir sampai liang lahad.” Hadis Nabi ini relevan dengan karakter ilmu yang dinamis: tesis, antitesis, dan sintesis. Karakter inilah yang memungkinkan analisis kejadian dalam literatur agama, seperti Isra Mikraj.

Pertemuan Para Nabi di Tujuh Langit

Setelah Nabi Muhammad SAW selesai mengimami salat, Malaikat Jibril mendampingi perjalanan beliau naik ke langit pertama. Di setiap lapisan langit, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan para Nabi terdahulu:

  1. Langit pertama: Nabi Adam AS
  2. Langit kedua: Nabi Isa AS
  3. Langit ketiga: Nabi Yusuf AS
  4. Langit keempat: Nabi Idris AS
  5. Langit kelima: Nabi Harun AS
  6. Langit keenam: Nabi Musa AS
  7. Langit ketujuh: Nabi Ibrahim AS

Pertemuan dengan para Nabi yang sudah lama wafat ini, menurut Asep Abdurrohman, memberi isyarat akan adanya orang-orang tertentu yang bisa mencapai kondisi serupa. Mereka adalah individu yang jiwa raganya selalu terpaut dengan Allah, sehingga bisa ‘meminjam’ pendengaran dan penglihatan Allah. Kekasih yang paling dicintai oleh orang itu adalah hanya Allah.

Dalam analogi kehidupan sehari-hari, mereka ibarat pegawai yang sangat dekat dengan bos, sehingga permintaan apapun akan dipenuhi. Kekasih Allah ini memiliki ‘jalan pintas’ untuk masuk ke dalam ‘istana’ Ilahi, sementara orang lain bersusah payah. Namun, untuk mencapai tingkatan spiritual tersebut, dibutuhkan perjuangan ekstra dan waktu panjang.

Mureks