Sejumlah manajer investasi (MI) di Indonesia tengah merancang strategi agresif untuk menarik minat investor pada produk reksa dana sepanjang tahun 2026. Langkah ini diambil menyusul pertumbuhan dana kelolaan (asset under management/AUM) yang signifikan sepanjang tahun 2025.
Salah satu MI yang mencatatkan AUM tinggi adalah Sinarmas Asset Management. Manajemen perusahaan membukukan AUM mencapai Rp62,39 triliun. Untuk mengarungi tahun 2026, Sinarmas AM akan menerapkan strategi taktis dan berbasis fundamental dalam meracik portofolio reksa dana mereka.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.
Head of Equity Sinarmas Asset Management, Donny Primananda, menjelaskan bahwa khusus untuk reksa dana saham atau campuran, strategi akan lebih berfokus pada alokasi yang cukup besar terhadap saham-saham berkapitalisasi jumbo dan memiliki likuiditas tinggi. Donny menyampaikan hal ini kepada Bisnis pada Jumat (9/1/2026).
Sinarmas AM memiliki setidaknya tiga jenis reksa dana saham, yakni Simas Danamas Saham, Simas Saham Unggulan, dan Simas Saham Maksima. Catatan Mureks menunjukkan, Simas Danamas Saham berkinerja positif dengan kenaikan harga 33,57% secara tahunan (YoY) selama satu tahun terakhir. Reksa dana ini memiliki eksposur 80–90% terhadap saham, termasuk ARCI, BRPT, BRMS, DSNG, dan HRTA.
Serupa, Simas Saham Unggulan juga mencatatkan kenaikan hingga 22,57% YoY, dengan dana kelolaan mencapai Rp585,44 miliar. Produk ini bahkan memiliki eksposur maksimal 98% terhadap saham-saham seperti BBCA, BMRI, BBRI, BUMI, DEWA, MDKA, dan PTRO.
Sektor Pilihan dan Kewaspadaan Manajer Investasi
“Sektor yang menjadi perhatian kami antara lain perbankan, consumer goods, emas, nikel, CPO, dan telekomunikasi,” kata Donny Primananda. Selain berbasis sektoral, pemilihan saham juga mempertimbangkan fundamental yang kuat, arus kas yang stabil dari perusahaan, eksposur terhadap konsumsi domestik, serta komoditas seiring kebijakan moneter yang cenderung longgar.
Pandangan berbeda datang dari Korea Investment Management Indonesia (KIM). Di tengah gejolak geopolitik yang kian memanas, KIM memilih strategi saham defensif dan berorientasi domestik. Dua sektor utama yang menjadi acuan KIM adalah telekomunikasi dan konsumer.
Menurut KIM, saham-saham di pasar modal Indonesia saat ini berada dalam valuasi yang cenderung murah, di bawah rata-rata historisnya. Sektor telekomunikasi dinilai bersifat defensif dan memiliki potensi perbaikan fundamental serta penciptaan nilai melalui berbagai inisiatif strategis. Sementara itu, sektor konsumer dianggap prospektif berkat dukungan kebijakan fiskal dan moneter yang relatif ekspansif, meskipun realisasinya bergantung pada pemulihan daya beli masyarakat.
“Sebaliknya, kami cenderung lebih berhati-hati terhadap sektor berbasis komoditas yang sangat sensitif terhadap dinamika global dan berpotensi mengalami volatilitas lebih tinggi dalam kondisi ketidakpastian,” ujar perwakilan KIM kepada Bisnis, Jumat (9/1/2026).
Untuk reksa dana pendapatan tetap (RDPT) atau campuran, KIM memilih obligasi dengan tenor 3–5 tahun. Pilihan ini didasari oleh imbal hasil yang kompetitif, meskipun tren suku bunga cenderung menurun.
Sementara itu, Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Eri Kusnadi, menyebut pihaknya cenderung memilih saham-saham yang sama dengan racikan reksa dana saham/campuran mereka tahun lalu. Khusus obligasi pemerintah, Batavia Prosperindo memilih untuk menetralkan durasi dan memperhatikan kualitas kredit serta fundamental perusahaan untuk obligasi korporasi.
“Kami fokus pada tema-tema yang selaras dengan fokus pertumbuhan ekonomi yang direncanakan oleh pemerintah, seperti konsumer dan kesehatan,” kata Eri, Jumat (9/1/2026).






